Undangan Mengikuti Kursus Singkat (30 jam) Dasar-Dasar Bahasa Arab
Written By IFANUDIN on Kamis, 21 Februari 2013 | 08.33
Undangan Mengikuti Kursus
Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam Dan Arab (LIPIA) di Indonesia berencana untuk mengadakan kursus singkat (30 jam) dasar-dasar bahasa Arab, periode 15/4/1434H - 10/5/1434H = 25/2/2013M - 22/3/2013M.
Bagi yang berkeinginan untuk mengikuti kursus tersebut, harap segera mendaftarkan namanya secara langsung ataumelalui web kami. Untuk mendaftar melalui web, klik di sini:
sumber: http://www.lipia.org/ina/
Mencemaskan, 97 Persen Pelajar di Indonesia Pernah Mengintip Situs Porno
Written By IFANUDIN on Rabu, 20 Februari 2013 | 21.37
Ilustrasi anak-anak bermain internet © Reuters/Jorge Silva
Perkembangan teknologi memiliki dua sisi, negatif dan positif. Hal tersebut dikemukakan dalam seminar Internet is Awesome for Students, Senin (18/2/2013), di Jakarta.
“Data pengguna internet Indonesia saat ini ada 62 juta pengguna, lebih banyak dari Singapura, dan 80 persen penggunanya berumur 15 – 30 tahun,” ujar Kalamullah Ramli, Staf Ahli Menteri Bidang Teknologi, Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) RI kepada media, salah satunya Tribunnews.
Kalamullah mengutip survei Komisi Perlindungan Anak Indonesia, tentang dampak negatif dari internet yang melibatkan 4.500 pelajar SMP dan SMU adalah 97 persen pelajar pernah mengakses situs porno, 92,7 persen pelajar pernah melakukan kissing dan oral sex, 61 persen pelajar SMP pernah melakukan hubungan seksual, dan 21,2 persen siswi SMU pernah melakukan aborsi.
Hal tersebut terjadi karena adanya perubahan fungsi sosial media. Menurut Kalamullah, perubahan tersebut diklasifikasikan menjadi empat hal, yaitu cyber bullying (kekerasan dan pelecehan melalui internet), cyber fraud (informasi tidak benar di internet atau hoax), penipuan transaksi online, cyber gambling (perjudian berkedok game online), dan cyber stalking (penculikan dengan kenalan di social media).
“Ini tantangan kita, sebagai orangtua kita jangan diam saja. Karena kita tidak bisa setiap hari ketemu mereka, ngobrol dengan mereka, salah satu cara memantau mereka, saya berteman dengan anak-anak saya di Twitter,” Kalamullah berbagai pengalaman dengan peserta seminar.
Bagi orangtua atau masyarakat yang menemukan situs porno, judi, transaksi seks, online shop mencurigakan, atau kejahatan di dunia maya dapat dilaporkan ke Kominfo. Pasalnya Kominfo memiliki software yang mem-blacklist bernama Trust Positive. Pengaduan dapat dilakukan melalui email dan akan ditindaklanjuti. Email ke: pengaduan@kominfo.go.id dan aduankonten@kominfo.go.id.
“Pengaduan dalam seminggu ada ribuan, jadi harap bersabar, bisa juga mention kami di Twitter,” kata Kalamullah sembari menyebutkan akun Twitter @kalamullahramli dan @bonipujianto untuk pengaduan.
“Beberapa hari lalu ada beberapa situs yang terungkap kejahatannya, itu kerjasama kami dengan LSM, cyber division Polri, dan aduan masyarakat. Kalau di Cina ada lembaga khusus untuk blocking, mereka ada empat ribu orang pegawainya. Kita belum bisa begitu, tetapi apa yang dilarang di dunia nyata, akan dilarang pula di dunia maya,” tegasnya.
sumber: http://news.fimadani.com/read/2013/02/19/mencemaskan-97-persen-pelajar-di-indonesia-pernah-mengintip-situs-porno/
Akhwat Demo, Bagaimana Adabnya?
Written By IFANUDIN on Rabu, 04 Mei 2011 | 17.18
KAMMI Fokuskan Dakwah Kampus
Written By Anonim on Sabtu, 19 Maret 2011 | 09.55
Rep: Agung Sasongko
KAMMI Harus Ubah Gaya Perjuangan
Rep: Agung Sasongko
Akhwat Genit, Apaan Tuh?
Written By IFANUDIN on Jumat, 09 Juli 2010 | 22.42

Akhwat adalah sebutan akrab untuk para wanita muslim. Akhwat secara bahasa Arab artinya saudara perempuan. Namun sudah maklum (diketahui) bahwa saudara yang dimaksud di sini adalah saudara seiman, sama-sama muslim. Hal ini bukan tak berdasar, karena Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lain," (HR. Muslim, no. 2564).
Namun memang sebagian orang menggunakan istilah akhwat untuk makna yang lebih sempit. Ada yang menggunakan istilah akhwat khusus untuk para muslimah yang aktifis dakwah, berarti yang bukan aktifis dakwah bukan akhwat.
Ada juga yang menggunakan istilah akhwat khusus untuk para muslimah yang berjilbab lebar, berarti yang berjilbab pendek bukan akhwat.
Ada yang lebih parah lagi, istilah akhwat hanya diperuntukkan bagi muslimah yang satu aliran atau gerakan, yang beda aliran dan gerakan bukan akhwat. Tentu kita lebih setuju makna yang umum, bahwa setiap muslimah yang mentauhidkan Allah, adalah akhwat. Namun yang lebih dikenal banyak orang, akhwat adalah para muslimah aktifis dakwah yang biasanya berjilbab lebar. Dan makna ini yang kita pakai di dalam tulisan saya ini.
Demi Allah, sungguh anggunnya para muslimah dengan hijab syar'inya (pakaian muslimah yang sesuai ajaran Islam), melambai diterpa angin, memancarkan cahaya indah dari sebuah keimanan yang mantap. Ya, keistiqomahan seorang muslimah untuk menjaga auratnya dengan jilbab yang syar'i adalah cermin keimanannya, setidaknya dalam hal berpakaian.
Sungguh beruntung mereka yang telah menyadari bahwa Allah telah memerintahkan para muslimah untuk berhijab syar'i, dan sungguh Allah tidak akan memerintahkan sesuatu kepada hamba-Nya kecuali itu adalah sebuah kebaikan.
Sungguh beruntung mereka yang telah menyadari bahwa Allah telah memerintahkan para muslimah untuk berhijab syar'i, . . .
Namun sayang sungguh sayang, sebagian akhwat yang berhijab syar'i belum menyadari esensi dari hijab yang dipakainya, yaitu untuk menjaga dirinya dari fitnah syahwat. Sebagian dari mereka hanya menganggap hijab syar'i hanya sekedar tuntutan berpakaian dari syari'at, atau ada pula yang hanya menganggapnya sebagai tuntutan mode supaya terlihat anggun, terlihat cantik, keibuan, dll. Wal'iyyadzubillah!.
Akhirnya ditemukanlah tipe muslimah yang disebut akhwat genit, yaitu mereka (muslimah) yang sudah berhijab syar'i, jilbab lebar, namun tidak menjaga pergaulan dengan lawan jenisnya. Mereka tidak menjaga diri dari hal-hal yang dapat menimbulkan fitnah (kerusakan;bencana) yang ditimbulkan dari pergaulan laki-laki dan wanita yang melanggar batas-batas syari'at. Padahal seharusnya merekalah (para akhwat) yang mendakwahkan bagaimana cara bergaul yang syar'i.
Akhwat genit, yaitu mereka (muslimah) yang sudah berhijab syar'i, jilbab lebar, namun tidak menjaga pergaulan dengan lawan jenisnya.
Mereka tidak menjaga diri dari hal-hal yang dapat menimbulkan fitnah (kerusakan;bencana) yang ditimbulkan dari pergaulan laki-laki dan wanita yang melanggar batas-batas syari'at.
Mungkin saja para akhwat genit ini belum tahu tentang tuntunan Islam dalam bergaul dengan lawan jenis. Ketahuilah, memang Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah mewajibkan ummat muslim berbuat baik dalam segala hal.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya Allah telah mewajibkan berbuat baik atas segala sesuatu," (HR. Muslim). Dan memang benar bahwa Allah telah memerintahkan hamba-Nya mempererat persaudaraan, ukhuwah sesama muslim, bersikap santun, sopan, banyak memuji. Namun perlu diperhatikan, hal-hal baik tersebut akan berbeda hukum dan akibatnya jika diterapkan kepada lawan jenis.
Berkata manis, santun, mendayu-dayu, itu baik, namun bila diterapkan kepada lawan jenis, bisa berbahaya.
Menanyakan kabar kepada seorang kawan, itu baik, namun bila sang kawan itu lawan jenis, bisa berbahaya.
Sering memberi nasehat-nasehat kepada seorang kawan itu baik, namun jika ia lawan jenis, bisa berbahaya. Senyum dan menyapa saat berpapasan dengan kawan, itu baik, namun jika ia lawan jenis, bisa berbahaya. Karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah berfirman yang artinya: "Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman supaya menundukkan pandangan mereka (daripada memandang yang haram), dan memelihara kehormatan mereka; dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka kecuali yang zahir daripadanya." (QS. An-Nur : 24).
Berbuat baik memang diperintahkan, namun Allah juga memerintahkan untuk menjaga pandangan dan pergaulan terhadap lawan jenis. Maka janganlah mencampurkan hal-hal baik dengan hal yang dilarang.
Ciri-ciri akhwat genit:
1. Berpakaian yang mengundang pandangan
Mungkin ia memakai jilbab lebar, gamis, namun jilbab dan busana muslimah yang dikenakannya dibuat sedemikian rupa agar menggoda pandangan para ikhwan. Warna yang mencolok, renda-renda, atau aksesoris lain yang membuat para pria jadi terpancing untuk memandang.
2. Senang dilihat
Akhwat genit, senang sekali bila banyak dilihat oleh para ikhwan. Maka ia pun sering tampil di depan umum, sering mencari-cari perhatian para ikhwan, sering membuat sensasi-sensasi yang memancing perhatian para ikhwan dan suka berjalan melewati jalan yang terdapat para ikhwan berkumpul.
3. Kata-kata mesra yang Islami
Seringkali akhwat-akhwat genit melontarkan kata-kata mesra kepada para ikhwan. Tentu saja kata-kata mesra mereka berbeda dengan gayanya orang berpacaran, namun mereka menggunakan gaya bahasa Islami. misalnya; Jazakallah yach akhi; Akh, antum bisa saja dech; Pak, jangan sampai telat makan lho; sesungguhnya Allah menyukai hamba-Nya yang qowi; Kaifa haluka akhi; minta tausiah dunks; Akh, besok syura jam 9, jangan mpe telat lhoo..
4. SMS tidak penting
Biasanya akhwat-akhwat genit banyak beraksi lewat SMS. Karena aman, tidak ketahuan orang lain, bisa langsung dihapus. Ia sering SMS tidak penting, menanyakan kabar, mengecek shalat malam sang ikhwan, mengecek shaum sunnah, atau SMS hanya untuk mengatakan Afwan atau Jazakallah.
5. Banyak bercanda
Akhwat genit banyak bercanda dengan para ikhwan. Mereka pun saling tertawa tanpa takut terkena fitnah hati. Betapa banyak fitnah hati, VMJ, yang hanya berawal dari sebuah canda-mencandai.
6. Tidak khawatir berikhtilat
Ada saat-saat di mana kita tidak bisa menghindari khalwat dan ikhtilat. Namun seharusnya saat berada pada kondisi tersebut seorang mukmin yang takut kepada Allah sepatutnya memiliki rasa khawatir berlama-lama di dalamnya, bukan malah enjoy dan menikmatinya. Demikian si akhwat genit. Saat terjadi ihktilat, akhwat genit tidak khawatir. Bukannya ingin cepat-cepat keluar dari kondisi tersebut, akhwat genit malah menikmatinya, berlama-lama, dan malah bercanda-ria dengan pada ikhwan laki-laki di sana.
7. Berbicara dengan nada
Maksudnya berbicara dengan intonasi kata yang bernada, mendayu, atau agak mendesah, atau dengan gaya agak kekanak-kanakan, atau dengan gaya manja. Semua gaya bicara seperti ini dapat menimbulkan bekas pada hati laki-laki yang mendengarnya. Dan ketahuilah wahai muslimah, hal ini dilarang oleh syari'at. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman yang artinya: "Maka janganlah kalian merendahkan suara dalam berbicara sehingga berkeinginan jeleklah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang maruf." (QS. Al Ahzab: 32).
Para ulama meng-qiyaskan (menganalogikan) merendahkan suara untuk semua gaya bicara yang juga dapat menimbulkan penyakit hati pada lelaki yang mendengarnya.
Mari sama-sama kita perbaiki diri. Kita tata lagi pergaulan kita dengan lawan jenis. Karena inilah yang telah diperintahkan oleh syari'at. Dan tidaklah Allah memerintahkan sesuatu kepada hamba-Nya, kecuali itu kebaikan. Dan tidaklah Allah melarang sesuatu kepada hamba-Nya, kecuali itu keburukan. Dan sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah mewasiatkan kepada ummatnya bahwa fitnah (cobaan) terbesar bagi kaum laki-laki adalah cobaan syahwat, yaitu yang berasal dari wanita: "Tidaklah ada fitnah sepeninggalanku yang lebih besar bahayanya bagi laki-laki selain fitnah wanita. Dan sesungguhnya fitnah yang pertama kali menimpa bani Israil adalah disebabkan oleh wanita." (HR. Muslim).Sumber : www.voa-islam.com
Kampung Inggris Pare Kediri, Tempat Kursus Terkenal Di Indonesia
Written By IFANUDIN on Minggu, 04 Juli 2010 | 19.07

Bertempat di 12 KM arah timur laut perjalanan dari Kota Kediri dengan melewati Monumen Kediri atau Monumen Simpang Lima Gumul, Kota Pare juga tak jauh dari Sepinya kota.
Sejarah Kampung Inggris ini sendiri dulunya adalah kampung kursus biasa namun sejak bermunculan tempat kursus bahasa inggris baru akhirnya terbentuklah sebuah perkampungan kursus. Ya Kampung Kursus, namun seiring berkembangnya waktu terkenal dengan kampung inggris. Mengapa demikian?
Beberapa tempat yang hanya menyediakan tempat kursus bahasa inggris saja menjadikan kampung inggris Pare Kediri Menjadi terkenal. Dari situ dari penjuru Indonesia para pelajar dari SMP, SMA dan Mahasiswa bahkan Para Guru juga mengaku pernah kursus di Kampung Inggris.
Sumber : www.lintasberita.com
Lowongan Pekerjaan (Guru)
Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMPIT) Al-Azhar Muara Bungo-Jambi Membuka Peluang Untuk Guru Sebagai Berikut :
1. Guru Sains
2. Guru Matematika
3. Guru Bahasa Arab
4. Guru Bahasa Mandarin
5. Guru Bahasa Inggris
Fasilitas Untuk Guru Yang diterima :
1.Tempat Tinggal
2. Konsumsi
3. Transportasi dan Akomodasi Ke Jambi
4. Gaji Awal Rp.500.000 (Bersih)
Bagi Antum/Antunna Yang Berminat Silahkan Menghubungi Bapak H.Hafizh El Yusufi (081385372163) paling Lambat tanggal 5 Juli 2010
LIPIA berpartisipasi dan Raih Prestasi dalam Festival Timur Tengah pada tahun 2010
Written By IFANUDIN on Sabtu, 03 Juli 2010 | 20.04

Lembaga Ilmu Pengetahuan Isalam dan Arab (LIPIA) di Indonesia telah ikut serta dalamFestival Timur Tengah pada Tahun 2010 yang di adakan di Universitas Indonesia-Depok selamaperiode 25-28 April 2010 yang pertepatan dengan 11-14 Jumadil'Ula 1431H.
Mewakili Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab dalam Festival ini, Kepala Pusat Pelayanan Masyarakat dan Pendidikan Berkelanjutan Al Ustadz.Muhammad Bin Saleh Al-Umairi, dimana beliau bertindak sebagai anggota Arbitrase komite Retorika.
Dr. Bader Al Rashed dan Al Ustadz. Fhad Kananni turut hadir dalam acara penutupan festial tersebut.
dalam kesempatan ini LIPIA telah memenangkan penghargaan di bidang Debat Bahasa Arab dan Artikel yang menjadi sasaran program ini untuk menghadirkan budaya Timur Tengah di Indonesia, dan mengangkat standard Bahasa dan Sastra Arab, serta memberikan motivasi untuk belajar Bahasa Arab agar dapat menemukan sebuah assosiasi sastra Arab diseluruh daerah di Indonesia, serta memberikan kesempatan kepada para siswa dan anak didik untuk mengembangkan kemampuan mereka dibidang seni, budaya dan ilmu yang terkait dengan bahasa Arab.

Beasiswa Tahfiz Al-Quran dan S1

Bagi Ikhwan yang ingin mendapatkan Beasiswa Tahfiz Al-Quran 100% Gratis Selama 2 tahun dan langsung bisa melanjutkan ke Universitas Muhammadiyah Surakarta Hubungi Ustadz Faqih: 081904723213. pendaftaran bisa lewat telepon atau SMS ke beliau.
Dan Bagi Akhwat atau ikhwan yang ingin Beasiswa Tahfiz Al-Quran maka bisa juga ikut program tahfiz Al-Quran Gratis yang diadakan oleh Rumah Quran El-Fawaz, bertempat di Mampang. untuk info lebih lanjut bisa menghubungi :

Jl. Bangka V No. 21 E RT 008/03 Pela Mampang, Jakarta Selatan 12720
Telp. 0217191947, 02199035764, 02191955941, 081381128244, 08158006464
Fax. 021-7191947
Website www.elfawaz.com; email -->elfawaz@gmail.com
Beasiswa S2
Written By Anonim on Kamis, 01 Juli 2010 | 13.08

Tipu Daya Wanita (Antara Malu dan Memalukan)
Written By Anonim on Rabu, 30 Juni 2010 | 21.20

Selintas saya mendengarkan lantunan murottal Al-Quran yang dibacakan oleh Syeikh Musyari Rasyid. Indah bacaanya dan enak untuk didengarkan. Indah pula surat yang dibacanya, Surat Yusuf yang penuh dengan hikmah yang mendalam. Di dalamnya terdapat seorang Nabi Yusuf yang merupakan manusia terganteng sejagad raya, serta Zulaikha yang "menghibahkan" keindahan tubuhnya karena tidak tahan dengan cintanya yang mendalam pada Nabi Yusuf.
Salam Perjuangan Faries Elfaez
Seni Membongkar Logika
Written By IFANUDIN on Selasa, 29 Juni 2010 | 21.31

Dalam catatan ini saya hanya ingin mengajak kita semua berpikir di luar logika manusia yang selalu memenjarakan kita dalam bayang-bayang kesempitan hidup. Logika adalah kelebihan manusia yang bersumber dari akal yang dititipkan Allah SWT. pada setiap manusia yang sehat. Pada akal yang sehat akan lahir logika yang kuat dan sulit terbantahkan. Kita ambil contoh sebuah logika sederhana dalam hidup ini, 1 + 1 = 2. Karena satu langkah setelah satu adalah angka 2. Itu logika sederhana yang tentunya sudah dipahami. Namun bagaimana jika saya katakan bahwa 1 + 1 = 0 ? mungkin anda sulit untuk memahami itu dan anda pun tidak sepakat dengan hasil 0 tersebut. Wajar, karena itu bukanlah logika yang telah dipahami bersama. Tapi itu adalah logika hidup dan bukan logika akal atau matematika. Logika hidup tidaklah selalu selaras dengan kaidah akal dan matematika. Karenanya logika hidup akan mengahasilkan bukan hanya angka 0 saja namun mungkin saja bisa juga menghasilkan angka 2 sesuai dengan kaidah matematika. Tergantung bagaimana kita mengelola pertimbangan-pertimbangan dalam setiap langkah kita di dunia ini.
Sampai di sini apakah anda masih bingung ?, saya kira anda pasti paham dengan jalan pikir saya yang di luar logika. Namun walaupun begitu, akan saya berikan contoh ilustrasi logika hidup. Seseorang kuliah di dua tempat ( dua universitas ) dalam tahun yang bersamaan. Berarti dia telah menjalankan logika 1 + 1 = 2. Apakah benar logika yang dijalankan oleh orang tersebut ?. tentunya benar menurut logika matematika, dalam artian dia akan berhasil meraih nilai yang baik di kedua universitas tersebut. Namun menurut logika hidup hasil itu bisa jadi bukanlah 2 tetapi 0. Dalam artian dia akan gagal mendapat nilai baik di kedua universitas tersebut karena fokusnya terpecah dan tidak bisa optimal dalam keduanya. Tetapi bisa juga logika hidup menghasilkan angka 2 selaras dengan logika matematika. Dalam artian dia sanggup untuk kuliah di dua universitas dan meraih nilai yang baik di keduanya. Ini contoh nyata yang telah diterapkan oleh seseorang yang saya kenal cerdas dan mempunyai daya fokus yang sangat luar biasa. Dia berhasil mengelola dan memanajamen kuliah. Dia kuliah di dua universitas, Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) dan Universitas Islam Jakarta (UIJ). Semoga apa yang menjadi cita-citanya tercapai penuh keberkahan. Itulah logika hidup.
Kita beralih ke logika yang lebih rumit untuk dibongkar. Kita tidak akan menggunakan logika matematika sepenuhnya. Kita akan langsung terjun pada logika normatif dan relatif dalam hidup ini. Namun tidak layak pula saya menyebut ini logika, karena sesuatu yang relatif tidaklah memenuhi syarat untuk menjadi logika yang sempurna. Karena ia bersifat subyektif tergantung sejauh mana ilmu, wawasan, pengalaman dan keberanian sang pemilik logika tersebut. Itulah logika yang lebih rumit untuk dibongkar. Membongkar logika normatif dan relatif adalah dengan ilmu, wawasan, pengalaman, dan keberanian yang lebih dari sang pemilik logika tersebut. Ok, kita ambil contoh logika yang normatif dan relatif dalam hidup ini. Banyak pemuda ataupun pemudi yang enggan menikah di usia muda karena takut menghadapi hidup setelah pernikahan, entah itu karena masalah ekonomi atau masalah lain yang ada pada calon suami atau calon isterinya. Logika tersebut tidaklah bisa disalahkan sepenuhnya, namun logika tersebut harus dibongkar dan dirubah menjadi logika normatif dan relatif yang lebih dekat pada sebuah logika yang sempurna dan tidak pula mustahil. Yang diperlukan hanyalah empat hal tadi. Ilmu, Wawasan, Pengalaman dan keberanian sang pembongkar logika agar bisa membongkar logika lain. Logika takut menikah karena masalah ekonomi adalah logika normatif dan relatif. Namun di dunia ini banyak pula pemuda yang berani menikah dalam usia muda dengan keberanian untuk membongkar logika relatif tersebut. Dia yakin akan janji Allah SWT. bahwa Dia akan memberi kekayaan pada hamba-Nya yang menikah. Atas dasar ilmu tersebut dia berani menikah dan tentunya setelah melihat fakta dan pengalaman para pemuda lainnya. Tidak mau menikah karena masalah yang ada pada pribadi calon isteri atau calon suaminya yang dalam pandangan manusia biasa sulit untuk dirubah. Logika tersebut adalah logika normatif. Dan logika tersebut harus dibuang dan dirubah oleh logika yang lebih kuat. Adakah manusia yang sempurna di dunia ini selain Nabi Muhammad SAW. ? jawabanya sudah disepakati, tidak ada manusia yang sempurna selain Beliau. Adakah sesuatu yang tidak bisa dirubah di dunia ini ? jawabanya telah disepakati bahwa segala sesuatu masih mungkin berubah selama dunia ini belum sirna. Hanya saja perlu kesabaran untuk merubahnya dan tidak terburu-buru mengambil langkah, apalagi memvonisnya tidak akan berubah. Perbuatan itu tidaklah bijak dan hanya melihat pandangan sesuai luas pikirannya saja. Terlalu banyak kisah seorang terjahat menjadi seorang yang paling baik setelah dia taubat. Karena hidayah hanyalah milik Allah SWT. Nabi bersabda : "Mungkin saja ada seseorang yang sering mengerjakan amalan ahli neraka, namun di akhir hidupnya dia mengerjakan amalan ahli surga dan akhirnya masuk surga."
Seni membongkar logika di sini dimaksudkan agar kita berani melangkah walaupun manusia memandangnya aneh dan di luar logika mereka. Karena tidak ada logika yang sempurna kecuali logika yang datang dari Allah SWT. bahkan logika matematika pun tidak sempurna. Karena masih memiliki kemungkinan salah walaupun beberapa persen, dan karena logika matemaika alam hanya akan berujung pada angka 0 dan hal itu telah diungkapakan oleh ilmuan ternama Albert Einstein. Berani melangkah di luar logika umum adalah suatu hal positif asalkan sesuai dengan Syariat Allah SWT. jangan takut melangkah jika kita yakin logika yang kita miliki adalah logika yang kuat dan jangan sombong atau keras kepala jika logika yang kita miliki adalah logika yang lemah dan mudah terbantahkan. Kita harus dengan rendah hati, pikiran jernih dan tulus menerima logika yang lebih kuat dari logika kita dan berani melangkah dengan logika tersebut.
Teruslah melangkah dan berusaha karena harapan itu masih ada. Nabi SAW. Bersabda : " Tanamlah pohon walaupun engkau tahu besok akan kiamat." Secara logika umum, menanam pohon padahal kita tahu besok akan kiamat adalah hal yang sia-sia. Namun logika Agama bicara berbeda, itu bukanlah hal yang sia-sia, karena kan mendatangkan pahala bagi orang yang berusaha menanamnya. Jadi, janganlah takut melangkah selama logika kita benar dan rendah hatilah menerima logika yang lebih sempurna yang lebih dekat pada syariat Allah SWT. Wallahu A'lam Bishawaaaab.
Jakarta City, 29 Juni 2010
Salam Perjuangan Faries Elfaez.
Sebuah Misteri Abadi

"Selama dunia ini belum sirna maka segala sesuatu masih mungkin berubah. Sesungguhnya musuh terbesar yang menghalangi kemajuanmu adalah DIRIMU SENDIRI."(Faries Elfaez)
Sungguh siapa yang bisa memastikan sebuah kisah di esok hari. Siapa yang bisa meniscayakan dirinya berhasil di masa depan. Tidak ada yang bisa kecuali Allah SWT. Ini adalah kelemahan manusia agar tidak sombong dan terus berusaha untuk tidak menyerah pada keadaan yang serba kekurangan baik fisik maupun harta. Terlalu banyak kisah untuk diceritakan tentang keberhasilan orang cacat dan orang kekurangan harta. Terlalu banyak. Gagal hari ini belum tentu esok gagal. Sukses hari ini belum tentu esok sukses. Namun kita harus berjalan dan memilih jalan orang-orang yang telah sukses untuk menjadi teladan.
Ingatlah saja Imam Syafi'i. beliau terlahir pada keluarga yang miskin. Namun semangat beliau untuk menuntut ilmu telah membakar semua belenggu-belenggu kemiskinan dan membeli singgasana ilmu dengan ketekunan, kesabaran dan keteguhan. Beliau mengumpulkan kertas-kertas yang sudah tidak terpakai dari pemiliknya untuk dijadikan buku tempat ia menggoreskan tinta emas keilmuannya yang masih harum hingga saat ini.
Ingatlah pula Sahabat Nabi Abdurrahman bin 'Auf ra. Hijrah ke madinah dengan tangan kosong tak memiliki sepeser pun uang untuk makan dan tidak membawa harta kecuali iman di dalam hatinya. Seorang sahabat anshor menawarkan pembagian hartanya separuh untuk dirinya, dan rela menalak salah satu isterinya untuk diberikan kepadanya. Namun semua tawaran itu beliau tolak dengan halus seraya berkata : 'di manakah pasar di madinah ?'. setelah mengetahui pasar madinah, belia mengambil daun dan kelopak kurma, dengan itu beliau membuat kerajinan tangan yang bisa dijual dipasar. Dalam waktu yang singkat beliau menjadi golongan sahabat Nabi yang terkaya. Dan menikah dengan hasil jerih payahnya sendiri. Begitulah kreatifitas sahabat Nabi untuk terus bertahan dan tidak menyerah pada tantangan. Karena tantangan itu ada untuk dihadapi bukan untuk dihindari.
Penulis sendiri merasakan bagaimana hidup ini adalah misteri abadi yang tak akan sanggup diungkap oleh manusia yang lemah. Dulu penulis adalah orang desa yang kolot tidak mengenal teknologi. Bahkan HP pun baru bisa menggunakannya saat masih di Madrasah Aliyah. Dan kini Allah telah menganugerahi kemampuan lebih dalam bidang Komputer dan Internet ( Teknologi Informatika ) walupun dengan otodidak. Alhamdulillah.., semoga bisa bermanfaat untuk diri dan umat.
Siapa pun diri kita, apapun keadaan kita janganlah menyerah pada apa yang telah terjadi. Selama dunia ini belum sirna maka segala sesuatu masih mungkin berubah. Sesungguhnya musuh terbesar yang menghalangi kemajuanmu adalah dirimu sendiri. Jadi tetaplah tersenyum menghadapi kegagalan dan tetaplah tersenyum menyambut masa depan yang lebih baik, insya Allah. Tersenyumlah, karena senyum itu akan mengahapus segala beban yang tersa berat dan menghilangkan rasa sakit yang menusuk. Tersenyumlah setulus mentari yang hadir di pagi hari.
Kita melihat banyaknya kasus bunuh diri karena cinta di Indonesia. Entah itu karena dikhianati atau diputus cinta oleh kekasihnya. Namun janganlah bersedih wahai pecinta sejati. Orang yang mengkhianati cintamu bukanlah orang yang terbaik untukmu. Dan orang yang memutuskan cintamu mungkin saja dia belum mengerti betapa setianya dirimu, atau dia sedang ingin bersuka ria bebas dan lari dari konsekuesnsi cinta yang engkau bangun dengan kesungguhan. Biarkan saja dua tipe orang seperti itu sampai ia menyadari betapa cinta itu bukanlah permainan. Cinta mempunyai konsekuensi yang harus dinikmati dengan ketulusan seberat dan sepahit apapun itu. Ingatlah Isteri Abu zar al-Ghifariyyah ra. yang sangat setia menemani suaminya bagaimanapun keadaan suaminya baik jiwanya maupun fisiknya. Atau Ingatlah Umar ra. yang rela dan ridho mempunyai isteri yang memarahi beliau. Namun di sisi lain engkau pun harus evaluasi diri dan terus memperbaiki diri sehingga tidak mengecewakan suami atau isterimu suatu saat nanti. Bunuh diri karena putus cinta atau dikhianati kekasih adalah jalan terburuk, jalan orang yang memandang dunia ini sebatas yang ia lihat saja. Padahal di sekelilingya banyak hal positif yang bermanfaat dan bisa membawa dirinya menjadi lebih baik. Bunuh diri hanya akan manambah masalah bukan sebuah solusi.
Dunia penuh dengan kemungkinan-kemungkinan. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari, apalagi masa depan. Kita hanya wajib berusaha, melakukan yang terbaik semampu dan sekuat mungkin agar menjadi lebih baik dan lebih baik. Berusaha berubah dari sisi negatif menjadi pribadi yang positif. Dunia ini misteri abadi. Hanya Allah Yang mampu mengetahui akan ke manakah kita nanti dan apa yang akan terjadi pada kita esok hari. Jadi janganlah menyerah dan putus asa, kegagalan hari ini bukanlah untuk selamanya. Lakukan yang terbaik untuk menjadi yang terbaik. Do the best to be the best. Jangan menyerah sebelum engkau mencobanya. Dan yang terpenting adalah tetap sabar, dan tersenyum apapun yang terjadi.
Jakarta City, 27 juni 2010
Salam Perjuangan Faries Elfaez
Tantangan Dakwah Era “Jahiliyah Modern”
Written By Anonim on Minggu, 27 Juni 2010 | 16.53

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS Al-Isra [17]: 16)
Dakwah adalah perjuangan yang memerlukan ketegaran dan ketabahan. Meski Rasulullah Saw menghadapi berbagai tantangan, khususnya dari pembesar kabilah-kabilah di Jazirah Arab, namun semuanya beliau lalui dengan sabar dan konsisten. Refleksi atas perjuangan Rasulullah Saw, khususnya ketika menghadapi berbagai tantangan dari pembesar-pembesar jazirah Arab, sangat relevan dengan konteks saat ini ketika bangsa kita dirundung berbagai bencana yang, salah satunya, diakibatkan ulah para pembesar negeri ini. para pembesar negeri ini selain telah memberi kontribusi terhadap carut-marut tatanan berbangsa dan bernegara, juga menjadi bagian tantangan tersendiri bagi para dai.
Tantangan Dakwah
Para ahli sejarah membagi periode dakwah Nabi Muhammad Saw ke dalam dua periode: Makkah dan Madinah. Periode Makkah dapat dikatakan sebagai periode yang penuh dengan tantangan dan cobaan, dari cacian hingga usaha pembunuhan. Sementara itu, dakwah di Madinah lebih kondusif, karena masyarakatnya lebih beradab.
Di Makkah, reaksi-reaksi keras yang menentang dakwah Nabi Saw bermunculan. Namun, usaha-usaha dakwahnya tetap dilanjutkan terus tanpa mengenal lelah, sehingga hasilnya mulai nyata. Jumlah pengikut Nabi Saw yang tadinya hanya belasan orang, makin hari makin bertambah. Hampir setiap hari ada yang menggabungkan diri ke dalam barisan pemeluk Islam. Mereka terutama terdiri dari kaum wanita, kaum budak, pekerja, dan orang-orang miskin serta lemah. Meskipun kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang lemah, namun semangat yang mendorong mereka beriman sangat membaja.
Tantangan yang paling keras terhadap dakwah Nabi Saw datang dari para penguasa dan pengusaha Mekah, kaum feodal, dan para pemilik budak. Mereka ingin mempertahankan tradisi lama. Mereka khawatir jika struktur masyarakat dan kepentingan-kepentingan dagang mereka akan goyah oleh ajaran Nabi Muhammad Saw yang menekankan keadilan sosial dan persamaan derajat. Mereka menyusun siasat untuk dapat melepaskan hubungan antara Abi Talib dan Nabi Muhammad Saw. Mereka meminta agar Abu Thalib memilih satu di antara dua: memerintahkan Nabi Muhammad Saw agar berhenti berdakwah atau menyerahkan kepada mereka. Abu Thalib terpengaruh kemudian meminta agar Nabi Muhammad Saw menghentikan dakwahnya. Tapi Nabi Muhammad Saw menolak sembari berkata, “Demi Allah saya tidak akan berhenti memperjuangkan amanat Allah ini, walaupun seluruh anggota keluarga dan sanak saudara akan mengucilkan saya.” Mendengar jawaban kemenakannya itu, Abi Talib kemudian berkata, “Teruskanlah, demi Allah aku akan terus membelamu.”
Gagal menghentikan dakwah Nabi Muhammad Saw dengan bujuk rayu, kaum Quraiys mulai melakukan tindak kekerasan. Orang-orang dengan lemah dan para budak yang memeluk Islam, bahkan Nabi Muhammad Saw sendiri, tidak luput dari kekejaman mereka. Terutama para budak, mereka disiksa dengan sangat kejam di luar perikemanusiaan oleh tuan-tuan mereka. Mereka dipukul, dicambuk, dan tidak diberi makan dan minum. Ada yang ditelentangkan di atas pasir yang panas dan di atas dadanya diletakkan batu yang besar nan berat.
Mereka yang merdeka pun juga mendapat siksaan dari keluarga mereka yang masih bertahan dalam agama nenek moyang. Setiap suku diminta menghukum dan menyiksa anggota keluarganya yang masuk Islam sampai dia murtad kembali. Usman bin Affan, misalnya, dikurung dalam kamar gelap dan dipukuli sampai babak belur oleh anggota keluarganya sendiri. Orang-orang yang tidak mempunyai pelindung yang disegani, seperti Abu Bakar, mendapat tindakan yang lebih keras. Secara keseluruhan, sejak saat itu umat Islam mendapat siksaan yang pedih dari kaum Quraiys Mekah. Mereka dilempari kotoran, dihalangi untuk melakukan ibadah di Ka’bah, dan lain sebagainya.
Berbagai usaha dilakukan orang-orang Quraiys untuk menghalangi hijrah ke Habasyah ini, termasuk membujuk raja agar menolak kehadiran umat Islam di sana. Namun, berbagai usaha itu gagal juga. Semakin kejam mereka memperlakukan umat Islam, semakin bertambah jumlah yang memeluk Islam. Bahkan di tengah meningkatnya kekejaman itu, dua orang kuat Quraisy masuk Islam, yakni Hamzah bin Abdul Muthalib dan Umar bin Khatab. Dengan masuk Islamnya dua orang yang dijuluki “Singa Arab” itu, semakin kuatlah posisi umat Islam dan dakwah Muhammad Saw. pada waktu itu. (Ensiklopedi Islam, 2001: 265-266)
Kedurhakaan Pembesar
Dalam Alquran, salah satu tantangan besar dalam dakwah adalah orang-orang kaya dan berpengaruh tetapi mereka durhaka. Mereka itulah yang disebut Alquran sebagai “mutrafin”, yang menyebabkan hancurnya suatu negeri. Perilaku kaum mutrafin dilukiskan dalam Alquran, “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan orang-orang yang hidup mewah di dalamnya, lalu mereka melakukan kedurhakaan di dalamnya, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan Kami, maka Kami hancurkan sehancur-hancurnya,”(QS Al-Isra [17]: 16).
Menurut Quraish Shihab, ayat tersebut menjelaskan salah satu sunatullah yang berlaku untuk jatuhnya suatu siksa bagi kaum yang durhaka. Secara tidak langsung ayat itu mengatakan: “Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri yang durhaka, sesuai dengan ketetapan dan kebijaksanaan Kami, maka Kami perintahkan orang-orang yang hidup mewah di dalamnya, yakni di negeri itu supaya menaati Allah dan Rasul-Nya, tetapi mereka enggan lalu mereka melakukan kedurhakaan yakni penganiayaan dan perusakan di dalamnya yakni di negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan yakni ketentuan Kami, maka Kami menghancurkannya yakni penduduk negeri itu dan atau bersama negeri itu sehancur-hancurnya sehingga mereka tidak bangkit lagi sebagai satu orde atau sistem kemasyarakatan (Tafsir al-Misbah, Vol. 7, 2005: 432).
Tantangan terbesar dakwah adalah mereka yang berpengaruh di mata masyarakat. Kelompok ini melecehkan dan berusaha menghambat dakwah, baik langsung maupun tidak, bisa dilihat dari perbuatan atau kebijakannya serta dampak dari perbuatan dan kebijakan tersebut. Dalam konteks kekinian, tantangan dakwah terbesar adalah para penguasa dan para pengusaha yang dengan kekuasaan dan kekuatan modal bisa dengan mudah mengeksploitasi sumberdaya alam serta mempolitisasi rakyat untuk kepentingan diri dan kelompoknya.
Sikap dan tindakan mereka memang tidak langsung menentang para dai atau mubalig dan menghambat kegiatan dakwah. Namun, dari sisi perilaku dan kebijakannya jauh dari nilai-nilai dakwah Islam yang diajarkan oleh para ulama. Dampak dari tindakannya itu pula dirasakan oleh masyarakat sangat merugikan.
Tekad Berdakwah
Dalam menghadapi kelompok ini, para dai dituntut memiliki tekad yang kuat untuk berdakwah dan kerelaan berkurban, baik jiwa, raga, maupun harta dengan sampainya ajaran Islam sehingga mengubah tindakan yang menzalimi masyarakat. Selain itu, diperlukan figur dai yang mempunyai semangat jihad tinggi; berani berkata tidak dan mengkritik pemerintah serta siap menghadapi segala resiko di medan perjuangan dan konsisten menyampaikan kebenaran.
Jika kita telusuri sejarah umat-umat ter-dahulu, lahirnya penentang dakwah, baik kolektif maupun perorangan, bukanlah hal baru. Ini sudah menjadi bagian dari sejarah dakwah Islam dari masa ke masa. Dalam Alquran, kelompok ini disebut mutrafin. Yaitu mereka yang diberi nikmat, tetapi tidak bersyukur; mereka yang hidup dalam kemewahan, kekuasaan, kepintaran, tapi digunakan dalam kezaliman. Segala karunia yang diberikan-Nya, bukan digunakan dalam kebajikan, namun justru merugikan orang lain.
Meski dakwah semarak, tetapi semangat pengamalan masih kurang sungguh-sungguh. Banyaknya tindak kejahatan, khususnya yang dilakukan oleh “santri-santri berdasi”, yang secara moral keagamaan merupakan bentuk kezaliman, adalah di antara bukti nyata bahwa respon masyarakat terhadap dakwah Islam selama ini baru sebatas pembelajaran. Belum banyak menyentuh hati nurani umat sehingga berpengaruh terhadap prilaku sehari-hari.
Sumber : www.cmm.or.id
Pejuang dan Kemenangan
Written By Anonim on Kamis, 07 Mei 2009 | 15.53
Pasukan yang tak kurang dari sepuluh ribu orang it uterus merayap memasuki gerbang Ummul Quro. Penduduk setempat yang telah mendengar berita kedatangan mereka merasakan ketakutan yang amat sangat. Berita itu menggetarkan jiwa dan hampir merontokkan tulang belulang yang menyangga tubuh mereka. Tapi tak ada yang dapat mereka lakukan kecuali menanti dengan pasrah hukuman apa yang akan mereka dapat dari orang-orang yang tak sedikit dari mereka masih tergolong kerabat.
Di tengah penantian mereka terdengarlah teriakan berulang-ulang, “Siapa yang memasuki rumah Abu Sufyan maka dia aman, siapa yang menutup pintu rumahnya maka dia aman, siapa yang memasuki masjid maka dia aman.”
Orang-orang segera memilih satu di antara opsi yang ditawarkan sebagai proses evakuasi penyelamatan diri.
Dan tak lama berselang, terdengar suara adzan menggema meruntuhkan pondasi-pondasi kemusyrikan yang telah sekian lama mencengkeram kota suci Makkah Al-Mukarrramah.
* * *
Kemenangan adalah puncak dari perjuangan. Tetapi tidak setiap perjuangan berbuah kemenangan yang pasti di balik sebuah perjuangan pasti ada pengorbanan.
Fathu Makkah yang terjadi pada bulan Ramadhan tahun 8 Hijriah dan dikomandani langsung oleh Rasulullah saw adalah sebuah contoh konkrit yang terekam dalam sejarah umat Islam sebagai sebuah kemenangan dakwah. Sebuah kemenangan telak yang telah diimpikan oleh segenap umat Islam saat itu.
Dalam mencapai kemenangan ini, Rasulullah saw dan para sahabat harus bersabar selama hampir seperempat abad. Bersabar dalam arti sesungguhnya bukan termangu dan berpangku tangan melainkan berjuang menjadikan harta dan nyawa sebagai taruhan.
Berbagai macam cobaan, hinaan, dan siksaan dialami oleh Rasulullah saw dan para sahabat saat mereka bahu membahu berjuang menegakkan kalimat Allah. Lebih sakit lagi cobaan dan siksaan itu. Karena yang melakukannya bukanlah orang asing bagi mereka, melainkan sahabat dan sanak keluarga. Tapi itulah adanya sebuah perjuangan selalu membutuhkan pengorbanan.
Kemenangan tidak diraih dengan instant walaupun ia adalah sebuah kebenaran. Tidak cukup sepekan atau sebulan tetapi dibutuhkan waktu yang amat panjang dan amat sangat melelahkan. Bukanlah manis akan terasa manisnya setelah kita mengecap pahit?
Sebuah kemenangan tidak berarti harus mendapatkan segelas sesuatu atau tipe kemenangan yang diidamkan oleh seorang pejuang. Betapapun kecilnya hasil dari sebuah perjuangan dan pengorbanan adalah kemenangan yang patut disyukuri. Selain itu, seorang pejuang yang dapat membaca keadaan harus memanfaatkan kemenangan sekecil apapun untuk menyongsong dan meraih kemenangan yang lebih besar.
Dalam sejarah kita sendiri, kita mengetahui bahwa pada awalnya Rasulullah saw hanya dapat menguasai Yatsrib yang dapat dikuasai tanpa melalui perang. Tapi dari Yatsriblah akhirnya dakwah Islam berkembang dan terus berkembang sampai saat sekarang ini.
Dari sini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kemenangan kecil adalah sebuah isyarat bahwa kemenangan besar telah menanti. Tetapi yang perlu diingat adalah bahwa kemenangan besar hanya dapat diraih dengan sebuah syarat mutlak bahwa perjuangan jangan sampai terhenti.
Satu hal penting yang harus dipegang oleh seorang pejuang bahwa yang dinilai bukanlah kemenangan yang kita impikan, melainkan sejauh mana usaha yang kita lakukan dan apa yang telah kita korbankan untuk meraih kemenangan. Itulah yang akan dinilai oleh Allah swt.
Ibarat sebuah hadiah, kemenangan baru akan diberikan setelah perjuangan yang kita lakukan sesuai dengan apa yang telah digariskan oleh Allah swt. Yang jelas bagi para pejuang adalah maksimal dalam berjuang.
“Dan katakanlah, bekerjalah kamu maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga rasul-Nya dan kaum mukmin.” (At-Taubah: 105).
Kita harus yakin suatu saat nanti kita akan kembali mengulang sebuah kalimat agung yang telah diucapkan oleh Baginda Rasulullah saw untuk turut kita ucapkan secara bersama-sama.
“Dan katakanlah, kebenaran telah dating dan yang batil telah lenyap. Sungguh yang batil itu pasti lenyap.” (Al-Isra’: 81).
*Penulis adalah Staff kaderisasi KAMMI LIPIA
AKSI SOLIDARITAS KAMMI LIPIA UNTUK PALESTINA
Written By Anonim on Sabtu, 03 Januari 2009 | 18.48
Menilai Manusia
Written By Anonim on Senin, 15 Desember 2008 | 17.40
Menilai orang lain sesungguhnya merupakan perilaku yang telah menyatu pada fitrah setiap manusia dari sejak kecil hingga dewasa, bahkan sepanjang umurnya. Secara sadar ataupun tidak, saat berinteraksi dengan orang lain, seketika itu juga benak kita akan menilai lawan interaksi kita tersebut. Sejumlah faktor yang bisa memunculkan penilaian atas diri orang lain antara lain bisa berupa: penampilan, cara berpakaian, merk busana, paras wajah, gambar tato dikulit, gelang tangan, gaya bicara, bahasa tubuh, tingkat tanggung jawab, tingkat komitmen, track record, latar belakang pendidikan, kedudukan, salary/harta, tingkat perhatian/empati, sikap ataupun cara penyelesaian terhadap suatu persoalan, dan banyak ragam lagi faktor yang bisa dinilai. Jadi, aktivitas menilai orang lain bukanlah hal yang asing ataupun aneh dan tabu. Di rumah, di lingkungan tempat tinggal, di sekolah, di kampus, di perusahaan, di instansi pemerintah baik yang departemen maupun yang non departemen, bahkan hampir didalam semua institusi formal, yang namanya mekanisme fit and proper test lazim dilakukan pada sejumlah orang kandidat dalam rangka promosi jabatan ataupun sekedar rekrutment karyawan atau anggota baru. Semua itu tak lain adalah bentuk aktifitas menilai manusia yang dilakukan oleh manusia yang lain. Sebuah contoh kejadian menilai manusia bisa dibaca pada kisah berikut ini (silakan klik disini).
Menilai manusia adalah keniscayaan. Itulah bentuk ikhtiar manusiawi yang bisa dilakukan. Namun begitu, ada sebagian orang yang berfikir dan berpandangan bahwa mestinya yang berhak menilai seseorang hanyalah Tuhan sang pencipta manusia tersebut. Tepat sekali!! Namun kita sama sekali tidak tahu apa-apa tentang penilaian Tuhan terhadap seseorang. Tak ada wahyu lagi yang turun setelah Nabi Muhammad SAW. Sikap seperti ini cenderung membuat orang untuk pasif dan enggan menerima penilaian atas diri seseorang meskipun penilaian itu dilakukan oleh banyak orang dan berdasarkan data temuan yang akurat. Padahal pada saat yang sama dirinya sama sekali tidak tahu apa-apa nilai dari Tuhan terhadap orang tersebut. Selanjutnya, tanpa disadari dan akibat ketidaktahuannya, akan mendorongnya untuk memunculkan pembenaran demi pembenaran atas pilihan tindakan yang sebenarnya sarat akan muatan subyektifitas dirinya dalam menilai dan didominasi oleh perasaan (bukan lagi oleh logika/nalar yang obyektif). Ujung-ujungnya, itulah cara yang dia pilih dalam rangka memberi nilai. Suatu cara menilai yang menutup semua pandangan dan masukan dari luar dirinya. Dalam situasi seperti itu, apakah bisa dijamin nyawa keadilan dan rasionalitas masih tertinggal disana?
Dalam lingkup dakwah, khususnya dalam suatu halaqoh (yang tentu saja di dalamnya terdiri dari manusia-manusia), seorang da’i murabbi memerlukan proses taqwim dakwah (penilaian atas diri seseorang sebagai evaluasi dakwah) secara berkesinambungan terhadap para mutarobbi-nya ataupun terhadap orang lain yang punya kaitan masalah dengan mutarobbi-nya, dalam rangka komitmen Islam secara umum. Proses taqwim ini memiliki dua bentuk yaitu jarh (menilai sisi kelemahan) atau ta’dil (menilai sisi kebaikan), atau bahkan terkadang mencakup keduanya, yang disampaikan secara garis besar atau secara rinci. Proses taqwim bertujuan untuk mengetahui ahliyyah (kapabilitas) seseorang. Proses ini juga bertujuan untuk mengevaluasi pencapaian muwashafat pada diri mutarobbi ataupun orang lain yang punya kaitan masalah dengan mutarobbi, misalnya dalam hal memilih pasangan yang sesuai untuk mutarobbi; atau misalnya ketika akan memilih seseorang untuk didudukkan pada posisi jabatan tertentu.
Untuk mengetahui tingkat ahliyyah (kapabilitas) seseorang, diperlukan adanya proses taqwim yang serius, jujur, obyektif, jauh dari ifrath (terlalu memudahkan) dan tafrith (terlalu menyulitkan), dan memiliki tingkat akurasi yang baik. Karenanya, peran pihak yang lebih dekat dan tahu kepada seseorang yang sedang dievaluasi dan diseleksi harus lebih diutamakan dibandingkan dengan pihak yang jauh darinya. Penilaian itu hendaknya dilakukan secara jama’i melalui mekanisme syura, agar tingkat akurasi penilaiannya lebih terjamin.
Landasan syar’i
1. Al Qur’an Al Karim.
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Q.S An-Nisa’: 58)
2. Sunnah Rasulullah saw.
Jika suatu urusan diberikan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat (kehancuran)-nya. (H.R Bukhari)
3. Manhaj Salafus-Saleh.
a. Umar bin Al Khaththab setiap kali mau mengangkat seseorang untuk menempati jabatan tertentu, terlebih dahulu bertanya kepada Hudzaifah pemegang rahasia Rasulullah saw, jika Hudzaifah merasa keberatan dengan orang itu, maka Umar tidak jadi mengangkatnya, jika Hudzaifah tidak keberatan, maka Umar mengangkatnya.
b. Umar bin Al Khaththab berkata kepada seorang lelaki yang mengaku mengenal seorang lelaki lainnya: “Pernahkah engkau pergi bersamanya? Pernahkah engkau bermuamalah uang dengannya? Orang itu menjawab: “Belum”. Kata Umar, “Berarti engkau belum mengenalnya”.
c. Ada seorang ulama’ hadits yang melakukan perjalanan sangat jauh untuk menemui seseorang yang diduga kuat mengetahui suatu hadits, menjelang sampai di rumah orang yang dituju, dilihatnya orang yang dicarinya itu memanggil binatangnya dengan isyarat akan memberi makan, namun, ternyata tidak memberi makan, maka ulama’ itu meninggalkan orang yang telah lama dicarinya itu dengan alasan, kalau dengan binatang dia berani berbohong, maka tidak mustahil untuk berbohong atas nabi Muhammad saw.
Sebenarnya, penggunaan taqwim dalam bingkai kolektif di masa sekarang, meskipun bersandar pada sebagian acuan jarh wa ta’dil dalam ilmu hadits, hanya saja analogi mutlak tidak selamanya benar karena ada perbedaan substansial. Yaitu, bahwa jarh atau ta’dil dalam ilmu hadits bertujuan untuk mengetahui perawi secara khusus; dari segi tsiqah-nya dan kemampuannya dalam meriwayatkan. Sedangkan dalam taqwim
dakwah, ia bertujuan untuk mengetahui seseorang dari segi kemampuan dan kelemahannya secara garis besar. Secara prinsip, jarh dan ta’dil (di dalam ilmu hadits) pada akhirnya didedikasikan untuk menetapkan kebenaran nash Nabawi, dan implikasinya berupa derajat kelemahan atau keshahihan riwayat.. Sementara itu, taqwim da’awi ditujukan kepada sejumlah tujuan universal dan final bagi aktivitas dakwah.
Manusia dan seluk-beluk keadaannya diketahui melalui berbagai cara. Diantaranya:
a- Kesaksian yang bersifat massal: yakni yang beredar di tengah masyarakat.
b- Pengujian: diberi tanggung jawab, diberi amanah lalu dilihat daya tahan, istiqomah dan kesabarannya serta kekuatannya.
c- Proses taqwim melalui jarh (menilai sisi kelemahan) dan ta’dil (menilai sisi kebaikan).
Tidak diragukan lagi bahwa proses taqwim merupakan salah satu seni mengetahui atau menilai manusia dan keadaan mereka secara umum (yakni bisa dianggap sebagai bagian dari ilmu antropologi). Proses taqwim ini merupakan ilmu Islam autentik yang bermula sebagai salah satu ilmu hadits Nabawi, dan menjadi ciri khas peradaban Islam. Karenanya acuan yang digunakan dalam menilai seseorang adalah sistem nilai yang berasal dari Allah Swt dan Rasul-Nya. Artinya penilaian baik maupun buruknya seseorang harus mengacu pada apa yang Allah tetapkan tentang muwashofat (karakter/ciri-ciri) orang baik dan apa yang Allah tetapkan tentang orang buruk. Bahkan dengan adanya proses taqwim, penjejangan didalam sekumpulan orang baik bisa dibedakan. Misalnya nilai kebaikan terendah adalah menyingkirkan duri di jalan, sedangkan kebaikan tertinggi adalah mengatakan al-haq dihadapan penguasa dzalim. Diantara keduanya tentu banyak sekali amal-amal yang bernilai baik.
Jadi, aktivitas menilai orang (taqwim) bukanlah hal yang tabu dalam Islam. Malah sebaliknya, Islam telah memberikan arahan bagaimana caranya men-taqwim yang dibenarkan oleh syariat. Upaya taqwim merupakan ikhtiar manusia untuk memilih manusia yang terbaik diantara sekumpulan manusia yang baik. Ia tidak ditujukan untuk men-judge seseorang dalam konotasi negatif. Ia tidak ditujukan untuk merendahkan dan meremehkan orang lain. Upaya taqwim lebih ditujukan untuk memilih orang yang tepat untuk menerima suatu amanah berdasarkan tingkat kapasitasnya, kemampuannya, daya juangnya, daya tahannya, nalarnya, istiqomahnya dan kesabarannya. Upaya taqwim lebih ditujukan untuk memilih orang yang cocok memikul beban dakwah yang semakin berat. Upaya taqwim lebih ditujukan untuk menunjuk orang yang tepat menerima tongkat estafet aktivitas dakwah. Inilah panduan teknis saat akan mempromosikan dan memilih seseorang, seperti ketika saat memilih calon pemimpin dan memilih calon pasangan hidup. Semoga hidayah Allah menuntun kita untuk mampu memilih yang terbaik diantara hamba-hamba-Nya. Amiin.
Sumber : http://beranda.blogsome.com
INDONESIAKU
Written By Anonim on Rabu, 19 November 2008 | 17.19
Sumbang terdengar gelak tawa di pasir
Merintih seIni Indonesiaku.....
dih, bocah gelandangan di pusaran kota
Ada rakyat, loper Koran
Ada rakyat, yang berprofesi preman
Ada pejabat, teladan di kantor
Ada pejabat yang koruptor.
Ini Indonesiaku.....
Merdu terdengar alunan seruling di persawahan
Rindang alam hijau di hutan
Ada rakyat, mencari makanan di tong sampah
Ada rakyat, bertabur makanan yang berlimpah.
Ini Indonesiaku.....
Hening senyap daerah pedesaan
Bising suara ruang perkantoran
Ada rakyat, tidur di pinggir jalan
Ada rakyat, tertidur di kamar, nyaman.
Ini Indonesiaku.....
Persada alamnya memukau
Harga-harga tinggi nyaris tak terjangkau
Ada rakyat, menimba ilmu
Ada rakyat, tak mau tahu menahu.
Masih.....
Masih lagi seribu kata lambang Indonesiaku
Hilang sudah harga diri Indonesiaku
Ke mana ???
Ke mana semua itu pergi ???
Ke mana Indonesia akan pergi ???
Ini Indonesiaku.....
Ia perlu kamu
Ia butuh karyamu
Ia haus akandarah perjuanganmu
Ia rindu kejayaan masa lalu
Ini Indonesiaku.....
Denpasar,13 Agustus 2008
created by Fatal Kahfi
Kredo Gerakan
Written By Anonim on Selasa, 07 Oktober 2008 | 11.50
1. Kami adalah orang-orang yang berpikir dan berkendak merdeka. Tidak ada satu orang pun yang bisa memaksa kami bertindak. Kami hanya bertindak atas dasar pemahaman, bukan taklid, serta atas dasar keikhlasan, bukan mencari pujian atau kedudukan.
2. Kami adalah orang-orang pemberani. Hanyalah Allah yang kami takuti. Tidak ada satu makhluk pun yang bisa menggentarkan hati kami, atau membuat kami tertunduk apalagi takluk kepadanya. Tiada yang kami takuti, kecuali ketakutan kepada selain-Nya.
3. Kami adalah para petarung sejati. Atas nama al-haq kami bertempur, sampai tidak ada lagi fitnah di muka bumi ini. Kami bukan golongan orang yang melarikan diri dari medan pertempuran atau orang-orang yang enggan pergi berjihad. Kami akan memenangkan setiap pertarungan dengan menegakkan prinsip-prinsip Islam.
4. Kami adalah penghitung risiko yang cermat, tetapi kami bukanlah orang-orang yang takut mengambil risiko. Syahid adalah kemuliaan dan cita-cita tertinggi kami. Kami adalah para perindu surga. Kami akan menyebarkan aromanya di dalam kehidupan keseharian kami kepada suasana lingkungan kami. Hari-hari kami senantiasa dihiasi dengan tilawah, dzikir, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran, diskusi-diskusi yang bermanfaat dan jauh dari kesia-siaan, serta kerja-kerja yang konkret bagi perbaikan masyarakat.Kami adalah putra-putri kandung dakwah, akan beredar bersama dakwah ini ke mana pun perginya, menjadi pembangunnya yang paling tekun, menjadi penyebarnya yang paling agresif, serta penegaknya yang paling kokoh.
5. Kami adalah orang-orang yang senantiasa menyiapkan diri untuk masa depan Islam. Kami bukanlah orang yang suka berleha-leha, minimalis dan loyo. Kami senantiasa bertebaran di dalam kehidupan, melakukan eksperimen yang terencana, dan kami adalah orang-orang progressif yang bebas dari kejumudan, karena kami memandang bahwa kehidupan ini adalah tempat untuk belajar, agar kami dan para penerus kami menjadi perebut kemenangan yang hanya akan kami persembahkan untuk Islam.
6. Kami adalah ilmuwan yang tajam analisisnya, pemuda yang kritis terhadap kebatilan, politisi yang piawai mengalahkan muslihat musuh dan yang piawai dalam memperjuangkan kepentingan umat, seorang pejuang di siang hari dan rahib di malam hari, pemimpin yang bermoral, teguh pada prinsip dan mampu mentransformasikan masyarakat, guru yang mampu memberikan kepahaman dan teladan, sahabat yang tulus dan penuh kasih sayang, relawan yang mampu memecahkan masalah sosial, warga yang ramah kepada masyarakatnya dan responsif terhadap masalah mereka, manajer yang efektif dan efisien, prajurit yang gagah berani dan pintar bersiasat, prajurit, diplomat yang terampil berdialog, piawai berwacana, luas pergaulannya, percaya diri yang tinggi, semangat yang berkobar tinggi
