RAMADHAN 1429 H
Written By Anonim on Kamis, 28 Agustus 2008 | 16.19
KAMMI KOMISARIAT LIPIA MENGUCAPKAN :
indonesiaku, Indonesiamu, Indonesia Kita semua
Written By Anonim on Senin, 18 Agustus 2008 | 02.46
Indonesiaku, Indonesiamu
Indonesia kita semua
Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Slalu dipuja-puji bangsa
Disana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Sampai akhir menutup mata
Disaat gemuruh hari kemerdekaan yang ditandai wewarna kegiatan dan aneka lomba yang menghiasi pojok-pojok negeri ini, dari Sabangnya hingga ke Meraukenya, dari Monasnya hingga Pulau komodonya, maka adalah sangat tepat kiranya jika sejenak kita tundukkan hati sambil mengangkat pandang kita, menatap kembali hakikat kemerdekaan negeri ini yang sudah enam puluh tiga tahun lamanya. Setidaknya agar bangsa ini tidak terjebak dalam jerat euphoria yang tidak bermakna atau terbelenggu dalam sekat hampa perayaan hari kemerdekaan yang hanya membuang energi. Melalui Ayat-ayat CintaNya Allah SWT mentarbiyah bangsa ini untuk memaknai hari bersejarah itu, idz qaala:
لئن شكرتم لأزيدنكم ولئن كفرتم إن عذابي لشديد
Proklamasi tertanggal tujuh belas Agustus, enam puluh tiga tahun silam adalah gerbang awal yang mendaulat negeri ini menjadi negeri yang merdeka, para pejuang yang dahulu memperjuangkan kata merdeka itu juga -seperti yang saya yakini dan mungkin juga antum- menjadikan kata itu sebagai point target langkah-langkah yang mereka rajut. Akan tetapi seperti apa makna dan terjemahan kemerdekaan yang kita yakini keabsahannya, bagaimana juga kemerdekaan itu bisa dikatakan telah mencapai titik puncaknya. Itulah pertanyaannya.
Kata merdeka yang dalam diksi arabnya disebut istiqlaal memiliki makna luas yang tidak terbatas pada terjemahan kebebesan, keluar dari jeruji penjajahan semata, akan tetapi kata merdeka menyiratkan makna yang mendalam, bahwa sebagai individu, bahkan sebagai suatu bangsa kita tidak boleh terikat oleh belenggu-belenggu manapun yang memaksa kita untuk melakukan sesuatu atau terhenti untuk melakukan sesuatu. Merdeka juga berarti bebas dari segala rupa intimidasi dari siapa pun dan tidak terkekang untuk mengambil kebijakan dan keputusan yang diyakini kemaslahatannya. Seperti halnya seorang Muhammad saw ketika di awal karir kerasulannya ditawarkan pilihan-pilihan yang begitu menggiurkan, di sana ada harta, ada juga wanita bahkan kekuasaan selengkapnya dengan hanya satu kompensasi yaitu meninggalkan dakwah, apa kata sang Nabi? "Kalla", dalam catatan sejarah mentari dan bulan sekalipun. Artinya, begitulah jika kemerdekaan itu akan dikekang tiada yang sanggup untuk menghalang, kemerdekaan Rasulullah untuk menyampaikan risalah Ilahiyah tiada yang dapat membeli, tak ada yang dapat menghenti. Karena hakikatnya adalah tiada belenggu dari siapa pun. Sederhana.
Hanya saja anugerah kemerdekaan itu tak bijak juga jika kita pisahkan dari Sang maha pemberi kemerdekaan itu sendiri, Allah SWT. Hal itu bahkan secara jelas tertulis dalam pembukaan batang tubuh undang-undang dasar 1945, kerena kemerdekaan yang kita rasakan atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Artinya berjalannya pembangunan untuk mengisi kemerdekaan itu haruslah seiring dengan kehendak Ilahiyah, sebab itu lah bentuk manifestasi rasa syukur bangsa ini kepadaNya, Sang pemberi kemerdekaan.
Nah so what setelah itu. Tentunya kita akan mencoba untuk flashback, memutar kembali memori kita, kita buka kembali lembaran sejarah yang pernah kita baca, atau sudah mulai kita lupakan, sejak detik proklamasi yang digemakan Bung Karno rentetan sejarah itu sampai detik pagi ini ketika Pak Hidayat Nurwahid mengulang untuk keenam puluh tiga kalinya teks tersebut. Adakah bangsa ini telah membuat Allah semakin cinta dengan kesyukuran mereka? Adakah serangkai peristiwa-peristiwa itu mengundang keberkahan ditandai dengan terangkatnya khouf wal juu' itu dari orang-orang nestapa itu, yang harus nganggur berhari-hari di RSCM karena mereka belum punya uang, atau dengan apa kita akan mesti menjelaskan sepanduk-sepanduk bertuliskan anak miskin dilarang sekolah, atau jeritan anak-anak polos di pagi itu, yang bilang ke ibunya, "mak besok kita digusur lagi ya?". Itu lah Indonesiaku hari ini.
Pastinya kalau dahulu negeri ini dipuja-puji bangsa maka hari ini barangkali juah dari itu, muru'ah bangsa ini kian hari kian menginjakkan kakinya pada anak tangga yang semakin rendah. Sengketa dengan negeri Jiran, konflik dengan Australia, seperti juga kasus-kasus penjahat narkoba yang masih berkeliaran pagi dan petang di negeri ini, sama halnya dengan cybercrim, penjahat phedofellia yang menjadikan Indonesia sebagai sarang ngumpet mereka, lalu kemudian terungkapnya kasus Rian belakangan ini membuka mata kita tentang sisi lain perkembangan komunitas gay di negeri yang dikenal santun ini… Allahul musta'aan. Dan seperti itu Indonesiamu hari ini.
Akan tetapi jangan berkecil hati, harapan itu masih ada. Membuat negeri ini menjadi tersenyum masih sangat mungkin. Tidak mustahil. Setidaknya masih banyak anak bangsa yang mulai berfikir mensehatkan negeri ini sebagai bentuk rasa syukur mereka terhadap akal dan perasaan yang dianugerahkan Allah kepeda mereka, kemudian bergerak menebar ruh baru itu bagi bangsanya, mengalirkan darah segar pada sendi-sendi negeri ini sehingga pada usia kemerdekaannya yang ke-enam puluh tiga tahun ini ia akan terlihat tempak muda dan segar, kira-kira seperti berusia tiga puluh enam tahun lah. Semoga saya dan antum semua adalah bagian dari mereka.
Sudah saatnya memang generasi baru ini yang -mengambil ta'bir Ilahy- genre yang يستبدل قوما غيركم ثم لا يكونوا أمثالكم mengangkat penyakit kronis kekerdilan sikap dan tingkah laku orang-orang yang tidak bertanggung jawab terhadap pertiwi ini. Yang tidak paham tentang makna kemerdekaan hakiki dan tiada peduli dengan kehendak Sang pemberi dan pencabut kata merdeka itu dari jantung bangsa ini.
Maka pada akhirnya mentarbiyah bangsa ini yang dengan beragam level sosial mereka, dengan bermacam khalfiyah dan usia mereka adalah keniscayaan untuk mengundang keberkahan Ilahiyah dan mengejawantahkan makna "mencerdaskan kehidupan bangsa" dalam kelanjutan pembukaan UUD '45 itu. Sebab keresahan kita tiada berarti tanpa aksi Seperti keresahan Ahmad Syauqi yang tertuang dalam bait syairnya,
وطني .... لا عيد لي حتى أراك بأمة شماء راوية من الأخلاق
Sehingga pada saatnya dengan bangga kita katakan inilah Indonesia kita semua.
Written by: Syauqi_beik
Pelajaran Dakwah dari Tadabur Surat Al-Anfal
Written By Fatimah on Sabtu, 09 Agustus 2008 | 20.18
Ayat demi ayat yang dilalui dengan tadabbur, memberikan banyak ma'ani yang semakin memperkuat rasa dalam diri untuk meningkatkan rasa keimanan, untuk memahami lebih dalam lagi tabiat dakwah. Dalam kesempatan ini ana akan coba menuangkan hasil tadabur ana secara ringkas dari beberapa ayat dalam surat Al-Anfal. Diantara bebarapa pelajaran yang ana dapatkan dari tadabbur ini sebagai berikut:
Surat ini di awali dengan kata يَسْأَلُونَكَ "Mereka bertanya padamu wahai Muhammad" Ayat ini memberikan sebuah pelajaran, diantaranya:
Bertanya tentang sebuah ilmu dan pengetahuan adalah sebuah anjuran dan keharusan. Sedangkan bagi orang yang ditanya tentang sebuah ilmu hendaklah menjawab dengan tidak meremehkan. Apalagi dalam sebuah urusan dakwah yang besar, sesungguhnya perjalanan dakwah dan harokah penuh dengan permasalahan, rintangan, serta musuh yang selalu meniupkan syubhat dan keraguan, penggelapan tentang kemurnian islam dan dakwah. Untuk menghadapi itu semua tidaklah bisa dengan mudah kecuali bertanya dan melakukan dialog dengan mereka yang memiliki keahlian dan pengalaman dalam jalan dakwah dan harokah. Mengambil dari apa yang telah mereka dapatkan selama melakukan tarbiyah dan tanzhim serta bersentuhan langsung secara terus menerus dengan dakwah dan dalam masa yang lama.
Pelajaran selanjutnya dari ayat وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ "Perbaikilah hubungan diantara sesamu". Dalam hubungannya dengan haraokah adalah : Sesungguhnya memperbaiki hubungan diantara pelaku dakwah (amilin) adalah sebuah keharusan untuk memperkuat kesatuan shof dakwah sehingga menjadi seperti bangunan yang kokoh, karena sesungguhnya kesatuan shof adalah sebuah syarat keberhasilan dakwah untuk menghadapi musuh-musuh Allah. Sedangkan ketatan pada Allah dan Rosul-Nya adalah sebuah sifat utama yang dituntut dalam setiap hal dan setiap waktu, dengan tidak melanggar batasan-batasan Allah.
Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang paling butuh untuk menyempurnakan sifat-sifat keimanan dari seorang pelaku dakwah itu sendiri, dengan itu Allah akan menjanjikan kemenangan kepada kaum mukminin. Bagaimana mungkin bisa menang dalam perperangan yang tidak pernah berhenti ini tanpa memujudkan syarat-syaratnya? Dalam ayat 2-3 disebutkan beberapa syarat tersebut : Rasa takut pada Allah di saat membaca ayat-ayat Al-Quran dan di saat menyebut nama-Nya, tawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, mendirikan sholat dan infak fi sabilillah.
Seorang muslim yang terjun kedalam kancah dakwah dituntut untuk memiliki sifat tadhhiyah dengan waktu dan dengan harta. Sedangkan harta adalah sebuah hal tidak bisa dipungkiri untuk membantu kelancaran sebuah dakwah, Bagaimana mungkin dibayangkan sebuah pengorban tanpa mengeluarkan harta di jalan Allah?
Sebab kondisi iman yang menurun, hilangnya rasa takut pada Allah, semakin jauh dari nilai ketaatan adalah karena tidak menjaga nilai-nilai peningkatan keimanan, kurangnya menyebut nama Allah, atau hanya dengan sebutan hambar tanpa memahami setiap nama yang terucap, jarangnya atau telah melupakan rutininatas tilawah Al-Quran, sholat sekedar tunduk sujud yang kosong dari khusyuk, terlalu sayang dengan harta yang dimiliki, kemudian lebih mengutamakan hasil kerja sendiri dari rasa tawakal kepada Allah. Maka bagaimana mungkin layak disebut seorang mukmin yang sesungguhnya?
Membaca Al-Quran dan mentadaburinya adalah mesti menambah keimanan, menguatkan hubungan dengan Allah SWT, dan semakin membuat seorang mukmin untuk selalu melakukan ketaatan. Ketika tilawah tidak dapat memberikan tambahan pada keimanan maka perlu dipertanyakan tilawah Al-Qurannya.
Dalam ayat 5-8 memberikan pelajaran lain yaitu: Menjadikan seorang mukmin senantiasa memuji Allah dan mensyukuri-Nya jika diperintahkan untuk melaksanakan sesuatu ataupun melarangnya dari sesuatu. Karena itu semua sesungguhnya untuk kebaikan manusia jika benar dilaksanakan. Dan Allah telah memerintahkan Rosul-Nya untuk keluar menghadapi orang-orang musyrik. Sesungguhnya dari sebagian muslimin yang berjuang dalam kebenaran yang telah nyata dan jelas bahwa mereka akan menang, sebagian mereka menerima perintah tersebut sedang mereka merasa berat dan tidak menyukainya, mereka seakan benci melaksanakannya, sampai pada tingkatan benci jika digiring pada kematian. Ini sebuah pelajaran yang besar untuk kaum muslimin dalam setiap masa dan tempat, gambaran berat untuk melaksakan perintah Allah, yang seharusnya dilakukan adalah menerima perintah Allah dengan rasa senang dan ridho selagi itu sebuah kewajiban.
Setelah Allah mengulas tentang larangan melarikan diri dari peperangan dan meninggalkan medan dakwah secara umum dan mengingatkan orang beriman untuk senantiasa taat, sehingga tidak menjadi seperti orang munafik yang mendengar padahal mereka tidak mendengar justru berpaling dari apa yang mereka dengar, Allah memerintahkan kepada kaum mukminin untuk memenuhi seruan Allah dan seruan Rosul-Nya. Pada ayat ke-24 di sana Allah menyatakan :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُون
Seruan ini adalah seruan kepada sesuatu yang memberikan kehidupan kepada mereka. Bagaimana mungkin dalam ayat ini dikatakan sebuah kehidupan? Sedangkan mereka diseru kepada jihad yang akhirnya adalah pengorbanan jiwa dan kematian. Sesungguhnya ayat ini memberikan banyak makna yang tersirat dari sekedar makna yang tersurat. Ayat ini sesungguhnya juga menyeruh mereka kepada iman, petunjuk, dakwah, jihad dan segala hal yang akan membawa mereka kepada kebahagiaan dalam kehidupan di dunia dan di akhirta. Jika seruan Allah dapat benar-benar dilaksanakan maka adalah sebuah keniscayaan kebahagiaanlah yang akan mereka dapatkan.
Iman bukanlah hanyalah sebatas kata yang terucap, atau sebatas keyakinan yang kosong dari amal. Akan tetapi ia adalah merupakan sebuah amal, sedangkan amal dalam ayat ini adalah menjawab seruan Rosul yang Allah wahyukan kepadanya. Menjawab disini diartikan melaksanakan apa yang datang dari Rosul. Maka inilah sesungguhnya yang menghidupkan manusia. Menghidupkan mereka dalam aqidah mereka dari kesesatan dan kebutaan, yang membuat mereka tahu kemurnian beriman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, para rosul, hari Akhir dan qodho serta qodar.
Menghidupkan pemikiran mereka yang benar dari segala keraguan, pemahanan yang sesat. Menghidupkan mereka dalam bermasyarakat, sehingga tegaknya rasa saling memahami, bahu membahu dalam kehidupan. Menghidupkan social politik mereka dengan menjaga hak-hak mereka, kebebasan mereka, dan kemerdekan mereka. Menghidupkan ekonomi mereka yang terlepas dari system pembagian barat dari negara kaya dan negara miskin, sehingga yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin bahkan mereka tidak bisa lagi intuk hidup.
Sesungguhnya apa yang diserukan oleh Rosul dan yang diwariskan kepada para dai itu adalah kehidupan yang sebenarnya bagi manusia, yang menghidupkan mereka dari kematian hati mereka dari lalai akan Allah. Menghidupkan akal mereka yang sesat dari jalan yang lurus, menghidupkan mereka dengan aturan dan undang-undang Allah.
Para harokiyun dan tarbawiyun hendaklah menjadikan dalam setiap amal dan perkataan serta pergerakannya benar-benar bersumber dari manhaj Allah SWT, yaitu dari Kitab-Nya dan sunnah Rosul-Nya, karena itulah yang akan mengumpulkan manusia, dan menjauhkan mereka dari perpecahan, dan menghidupkan manusia dengan kehidupan yang mulia di dunia dan akherat.
Ternyata tidak mudah sampai disitu, Seorang dai untuk mewujudkan kehidupan yang bersumber pada manhaj Allah kadang kala ia harus berhadapan dengan dorongan hatinya, yang menggerakan kepada syahwat dan hawa nafsu yang membuatnya lalai dari mengedapankan kemaslahatan dakwah di atas kepentingan pribadi. Sehingga Allah melanjutkan :
وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ
Itulah sebuah fenomena keinginan hawa nafsu yang menguasai hati. Mudahan Allah menyelamatkan kita dan semua duat yang berjuang di jalan Allah dari hal-hal yang menjauhkan dari tujuan dakwah semula. Dan senantiasa memberikan keikhlasan dalam beramal untuk islam. Terjauh dari fitnah harta dan anak. Senantiasa hanya mengharapkan pahala disisi Allah saja. Amiin
وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
"Dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar " ( Al-Anfal: 28)
Wallahu a'lam.
Washollahu ala Muhammad wa 'ala alihi washoohbihi wassalam
Pengumuman Nama-nama Mahasiswa Baru Universitas Islam Madinah 1429/1430 H (Indonesia)
Written By Fatimah on Sabtu, 02 Agustus 2008 | 13.51

1. Abdullah Fahmi Majid
2. Abubakar Shiddiq
3. Ahmad Ghozali Ismail
4. Ahmad Sholahudin
5. Ahmad Wahyudi
6. Alamsyah Medwikromo
7. Amha Hasan Nasrullah
8. Ariful Bahri Alizar
9. Armin Akbar Bahanan
10. Baidhowi Razi Muhamad Zaini
11. Bambang Sahubala
12. Deni Irawan bin Sarbini
13. Endang Sutedi bin Rusydi
14. Fakhri Basyarahil
15. Farhan bin Zamzami Al-Kambari
16. Farid Luthfi
17. Haidar Rohman bin DR. Nads H. Muhamad ZR
18. Handono Ilyas Suseno
19. Harwan Laba
20. Iksan Dwi Santoso
21. Irsyad Hasan
22. Ismail bin Filumina
23. Ismail Margham
24. Khotamin Mat Shoim
25. Lalu Zulham bin Efendi
26. Lanlan Tuhfatun Nafsi
27. Mahdi Zulkifli
28. Mahmud Bakari
29. Maulana bin Landa
30. Muhamad Akrom Afifi
31. Muhamad Amin bin Abdul Muhith
32. Muhamad Farhan Mauludi
33. Muhamad Iqbal Ismail
34. Muhamad Mukhtarul Mukhlisin
35. Muhamad Nisfu Lail bin Sutarno
36. Muhamad Reza Nugraha
37. Muhamad Soleh
38. Muhamad Zaini Anwar bin Khoirul Anwar
39. Nurdiansyah Nasrudin
40. Rahmat Fauzan Azhari
41. Ridho Abdullah
42. Rohman Hakim
43. Romadhoni bin Yatmin
44. Roman Al-Wafi Ramadhan Shabahy
45. Sadam Husein
46. Saifudin Jaza
47. Gusnu Al-Ghani
48. Zain Bahamid bin Ahmad Bahamid
49. Zainudin Mudaham
50. Zulfikar Syam
Jika nama-nama tsb di atas masih kurang jelas, silakan kunjungi http://jabal-uhud.blogspot.com/2008/08/blog-post_9612.html untuk melihat nama-nama dalam Bahasa Arab.

