kammilipiakammilipiakammilipiakammilipiakammilipiakammilipiakammilipia
Home » » MASJID RAYA BAITURRAHMAN

MASJID RAYA BAITURRAHMAN

Written By KAMMI LIPIA on Rabu, 14 Mei 2008 | 20.53

MASJID RAYA BAITURRAHMAN

Sudah akrab banget kan dengan masjid ini? Bukan Taj Mahal, bukan di India. Yang ini asli made in Indonesia. Yup, Masjid Baiturrahman di Banda Aceh, yang menjadi saksi bisu keganasan gelombang tsunami yang menyapu daratan Nanggroe Aceh Darussalam akhir tahun lalu. Masjid ini juga menjadi tempat rakyat Banda Aceh berlindung dari sapuan tsunami.

Siapa Yang Membangun?
Mesjid Raya Baiturrahman terletak di tengah kota Banda Aceh. Menurut beberapa literatur, masjid ini pertama kali dibangun oleh Sultan Alaidin Mahmud Syah I yang berkuasa tahun 1267-1309 M. Namun ada sumber yang menyebut bahwa Masjid Baiturrahman dibangun pada zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Menurut catatan Nuruddin Ar-Raniri dalam kitab Bustanus Salatin, Sultan Iskandar Muda sangat giat mengembangkan ajaran agama Islam dalam wilayah kerajaan Aceh. Beliau banyak membangun masjid-masjid besar, salah satunya adalah Mesjid Baiturrahman atau sekarang lebih dikenal dengan nama Mesjid Raya Baiturrahman. Tetapi, pendapat bahwa Masjid Baiturrahman dibangun pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda masih agak diragukan karena ada pendapat lain yang menyebut bahwa Sultan Iskandar Muda hanya melakukan perbaikan-perbaikan.

Tempat Pertahanan Perang Aceh
Seiring dengan perkembangan zaman, masjid ini masih tetap terpelihara dengan baik dan merupakan tempat pertahanan bagi pasukan perang Aceh dalam melawan pasukan Belanda pada tahun 1873 sehingga menewaskan seorang Jenderal Belanda bernama J.H Kohler tepatnya pada tanggal 14 April 1873. Kejadian ini juga menyebabkan serdadu Belanda ditarik kembali ke Batavia yang sekarang ini disebut Jakarta.
Sebelumnya, pada tanggal 22 Maret 1873, Masjid Baiturrahman juga menjadi tempat musyawarah bersejarah yang diprakarsai Sultan Alaidin Mahmud, dimana Aceh menolak kehadiran Belanda. Seminggu kemudian Belanda memaklumkan perang untuk Aceh.

Dibakar Belanda
Belanda membakar masjid ini pertama kali pada tanggal 10 April 1873 ketika serangan cepat dan besar-besaran mereka lancarkan terhadap pejuang Aceh. Karena tak bisa merebut, Belanda pun membakarnya. Pejuang-pejuang Aceh berusaha memadamkan api yang berkobar da merebut kembali masjid yang menjadi simbol Islam di negeri tersebut. Masjid kembali dibakar pada 6 Januari 1874. Saat itu Belanda membakar ibukota, yang menyebabkan masjid ini ikut terbakar habis.

Perluasan Masjid
Rakyat Aceh benar-benar terluka karena pembakaran masjid oleh Belanda. Menghindari hal-hal yang tak diinginkan, pada 9 Oktober 1879, masjid ini direhabilitasi kembali oleh Gubernur Militer Aceh Jenderal K. Van Der Heijden. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Teungku Kadhi Malikul Adil. Tahun 1881, masjid selesai dikerjakan dengan satu kubah. Pada tahun 1935, masjid ini diperluas dengan tambahan dua kubah pada kedua sisinya. Tahun 1957 dibangun lagi dua kubah di belakang, dan selesai tahun 1967. Dari tahun 1992-1995, masjid ini kembali mengalami pemugaran dan perluasan bangunan menjadi 7 buah kubah dan 5 buah menara yang mampu menampung ± 10.000-13.000 jamaah. [Dee/berbagai sumber]


NGGAK SHALAT? KELUAR DARI AREA MASJID!
Banyak yang bilang, belum ke Aceh kalau belum ke Masjid Baiturrahman. Ada benarnya tuh. Bangunan ini memang kebanggaan rakyat Nanggroe Aceh Darussalam. Tak lengkap rasanya ke Aceh kalau belum menapaki masjid ini. Masjid Baiturrahman juga terkenal ke seluruh mancanegara, dan termasuk masjid termegah di Asia Tenggara. Kalau kamu datang ke Masjid Raya Baiturrahman, kemudian tiba waktu shalat dan masih berseliweran di sekitar masjid, nggak segera mengerjakan shalat, pasti petugas masjid akan segera meminta kamu keluar dari areal masjid.
-Ifanudin-
Share this article :
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013. KAMMI LIPIA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger