kammilipiakammilipiakammilipiakammilipiakammilipiakammilipiakammilipia
Home » » Sekjen FUI: Jika Pendiri Negara Masih Ada, Mulut Ahok Sudah Digampar

Sekjen FUI: Jika Pendiri Negara Masih Ada, Mulut Ahok Sudah Digampar

Written By Ifanudin Al-Faiz on Jumat, 22 Februari 2013 | 15.09

Sekjen FUI: Jika Pendiri Negara Masih Ada, Mulut Ahok Sudah DigamparSekretaris  Jenderal Forum Umat Islam (FUI),  Ustadz Muhammad Al Khaththath, tidak habis pikir dengan pernyataan kontroversial Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang melecehkan peran agama dalam bernegera. Padahal kemerdekaan bangsa Indonesia lahir atas berkat rahmat Allah.
“Jadi kalau si Ahok mengatakan agama gak bisa mengatur negara sama dengan mengatakan agama Allah Yang Maha Kuasa tidak bisa mengatur negara. Wah ini kalau para pendiri negara masih ada sekarang sudah digampar tuh Ahok,” ujarnya kepada Islampos, Kamis (21/2/2013)

Dalam pembukaan UUD 1945 jelas Bangsa Indonesia sangat berterimakasih atas kemerdekaan mengusir penjajah. Hal itu mustahil terjadi tanpa izin Allah Yang Maha Kuasa. Kalau negara sudah menyatakan berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, berarti semua urusan negara didasarkan atas ketentuan agama.

“Kalau gak pakai agama itu berarti mengingkari dasar negara,” tegasnya.
Wakil Gubernur DKI Jakarta itu juga dinilai plin-plan dalam merumuskan ketidakhadiran agama dalam bernegara. Di satu sisi menyerukan pemisahan agama dengan negara, tapi di sisi lain tetap bertindak sesuai agama yang dianutnya dalam kehidupan sehari-hari.

“Ahok itu omongannya mlintar mlintir, habis ngomong jangan pakai agama terus dia bertindak sesuai agamanya. Plin-plan itu namanya. Kalau pakai ya pakai, kalau gak ya gak,” pungkas Ustadz Muhammad Al Khaththath.

Sebelumnya, di hadapan dokter se-Jabodetabek, Ahok mengajarkan tiga prinsip hidup, yaitu perut, otak, dan dompet. Tapi pernyataannya disanggah oleh seorang dokter yang mengatakan bahwa akhlak adalah prinsip hidup.
Menurut dokter Imam dari RS Pondok Labu, selain tiga hal tersebut, ada juga faktor akhlak yang penting.

“Saya nggak setuju dengan tiga prinsip Bapak, karena akhlak juga penting. Pemerintah juga harus memikirkan soal akhlak rakyatnya,” ujar dokter tersebut.

Menanggapi dokter Imam, Ahok langsung teringat pengalaman politiknya selama 10 tahun terakhir. Dengan nada tinggi, dia menegaskan bahwa akhlak kadang bukan lagi acuan dalam dunia tersebut. Sebab, saat ini para pejabat sebagian besar munafik.

“Kerusakan akhlak jelas bukan soal politik, negara ini rusak karena mencampurkan agama dan politik. Kita bisa berdebat di luar itu, banyak orang munafik, ada nggak pejabat yang berani melaporkan harta kekayaannya dan pajak yang dibayarkannya, tidak ada yang berani Pak, munafik!” seru Ahok dengan tinggi

Bagaimana dengan Ahok? “Saya berani Pak, periksa saya dulu. Saya ngomong di DPR dulu, periksa saya dulu,” tegas eks anggota DPR dari Golkar ini.

Karena itu, Ahok tak mau bicara soal agama dalam politik. Dia lebih memilih berbuat baik pada sesama.

“Saya udah kenyang 10 tahun berpolitik, bahkan saya sudah muak berpolitik, makanya saya sudah muak bercerita soal agama dan akhlak, kita buktikan perbuatan sekarang,” beber Ahok sambil disambut senyum para dokter.

“Orang bilang saya arogan, memang arogan, karena negara ini tidak bisa dipimpin baik-baik mesti diajak berantem,” pungkasnya seperti dikutip Detik.

sumber: http://news.fimadani.com/read/2013/02/22/sekjen-fui-jika-pendiri-negara-masih-ada-mulut-ahok-sudah-digampar/
Share this article :
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013. KAMMI LIPIA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger