
Ada sebuah teka-teki,
sedikit janggal tapi cukup faktual untuk menggambarkan apa yang terjadi
di tengah-tengah kita saat ini. Jika suatu malam, digelar sebuah makan
malam di sebuah restaurant yang hanya menyediakan dua meja saja. Satu
meja diisi oleh para moralis dan filsuf-filsuf besar seperti Immanuel
Kant, David Hume dan yang lain-lainnya. Meja satu lagi diisi oleh para
pembohong dan si mulut besar, seperti Machiavelli, Casanova, Rousseau,
Ernest Hemingway dan Oscar Wilde. Pertanyaannya, meja mana yang lebih
ramai dan paling riuh? Kira-kira jawaban Anda, meja yang mana?

Saya melakukan survey
kecil-kecilan dengan mengajukan teka-teki di atas pada teman-teman
dekat. Dan seperti dugaan, semua jawaban yang saya dapatkan, tentu saja
meja yang lebih ramai dan paling riuh adalah meja kedua. Meja tempat
berkumpulnya orang-orang bermulut besar dan para pembohong. Sejak awal
saya juga sudah menduga, bahwa meja itulah yang lebih menyenangkan
daripada meja para moralis dan para filsuf. Meja kebenaran adalah meja
yang membosankan.
Saya mendapatkan teka-teki ini dari buku The Penguin Book of Lies. Termasuk salah satu buku klasik yang pernah diterbitkan oleh penerbit internasional Penguin.
Terbit pertama kali pada tahun 1990. Istri saya menghadiahkan buku ini,
setelah membelinya dalam keadaan bekas pakai di halaman sebuah masjid
di wilayah Jakarta Selatan. Rezeki besar, batin saya. Buku bagus, dalam
kondisi yang masih bagus, dengan content yang
sangat bagus. Memuat sejarah kebohongan dalam sejarah manusia sejak era
purba sampai zaman modern. Tidak saja kebohongan yang dilakukan oleh
manusia, tapi juga oleh institusi bernama negara, media, bahkan sekolah.
Frederich Nietzche mengatakan, bagaimanapun kebohongan adalah sesuatu yang diperlukan dalam kehidupan. “Lies are necessary to life,” begitu kata Nietzche.
Begitulah kehidupan kita
saat ini, dibangun di atas konstruksi kebohongan yang bukan saja
merajalela, tapi sudah menjadi semacam kebutuhan dalam hidup. Dengan
kebohongan, hidup nampak lebih indah. Dengan kebohongan, sesuatu yang
sulit menjadi mudah. Dengan kebohongan, kita seolah-olah menjadi lebih
bahagia.
Kebohongan ada di
mana-mana, di sekitar kehidupan kita. Di rumah, mungkin kebohongan tak
pernah absen kehadirannya. Seperti dalam sebuah novel yang ditulis
Gabriel Garcia Marquez, Love in the Time of Cholera atau El amor en los tiempos del cólera, ada
sebuah dialog antara dua tokoh di dalamnya tentang perkawinan yang
telah lama mereka bina. Di hari peringatan perkawinan, sang suami
bersulang dengan istrinya untuk pernikahan mereka. “Untuk perkawinan
kita. Dalam perkawinan, kebahagiaan bukanlah segalanya, tapi stabilitas
adalah yang utama,” ujar sang tokoh.
Di ranah sosial yang
lebih luas, kebohongan seolah menjadi tiket utama kesuksesan manusia.
Lihat saja para politisi di negeri ini. Semakin besar mulut mengumbar
bualan, semakin besar kemungkinan untuk menang. Tepat seperti yang
digambarkan oleh Niccolo Machiavelli dalam The Prince yang ia tulis pada tahun 1532. “Prince never lacks legitimate reason to break his promise,” tulis Machiavelli.
Hari ini, kebohongan adalah kehidupan kita sehari-hari. Yen ora edan, ora keduman, kata Jayabaya dalam jongkonya.
Kita dipaksa kompromi dengan dusta. Dan akhirnya, kita dipaksa
menikmatinya. Lalu kita terlena. Terjerat dengan sangat erat. Nyaris tak
punya daya untuk lepas dari bualan dan omong besar. Karena hanya dengan
bualan dan omong besar, hidup menjadi lebih hidup. Apalagi yang dicari,
selain hidup terasa lebih hidup. Jika harus bohong untuk
mendapatkannya, biarkan saja.
Saya teringat kisah tentang Ka’ab bin Malik yang tak turut dalam perang Tabuk. Dalam kitab Riyadhus Shalihin diriwayatkan,
Ka’ab sendiri berkata, “Aku tak pernah menemukan diriku sesiap ini, aku
tidak pernah menemukan diriku sekuat ini.” Ia merasa sangat siap dan
kuat untuk berangkat ke perang Tabuk. Tapi perjalanan perang itu ia
tunda-tunda, dan akhirnya ia batal untuk bergabung dengan pasukan
Muslimin lainnya.
Ketika Rasulullah dalam
perjalanan pulang ke Madinah, hatinya berdebar-debar. Mempersiapkan
alasan-alasan yang akan ia jadikan hujjah mengapa tak turut berjuang di
jalan mulia. Segala alasan telah ia kumpulkan, “Aku adalah lelaki dengan
lidah yang tajam. Niscaya jika aku kemukakan alasan, Rasulullah akan
menerimanya.” Persiapan kebohongan itu, ternyata tidak membuatnya
bahagia. Akhirnya Ka’ab berterus terang, ia tak punya alasan ketika tak
turut berperang.
Andai saja ia dusta,
tentu ia tak dihukum demikian rupa. Selama berhari-hari ia dikucilkan,
bahkan oleh istrinya sendiri. Tatapan matanya tak pernah bertemu dengan
tatapan mata Rasulullah, lelaki yang paling dicintainya. Salamnya tak
pernah dibalas oleh penduduk Madinah. Bumi yang luas, ia rasakan menjadi
sempit menghimpit. Itulah yang harus dibayar untuk sebuah kejujuran.
Tapi ketika firman Allah
turun, “Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat)
mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal
bumi itu luas, dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh
mereka, serta telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa)
Allah melainkan kepada-Nya saja. Kemudian, Allah menerima taubat mereka
agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha
Menerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. at Taubah:118) Ka’ab belum
pernah merasakan hatinya bahagia, seperti kebahagiaannya saat ayat ini
diturunkan sebagai tanda penerimaan atas taubatnya.
Apakah kita akan menukar
ridha Allah dengan kebohongan yang terus kita ada-adakan dalam
kehidupan kita? Mungkin saat ini kita bahagia, tapi tak akan ada manusia
yang mampu menipu dirinya sendiri, terlebih menutupi kebohongannya di
depan Allah SWT. (Herry Nurdi)
Sumber:http://pks-beni.blogspot.com/2013/01/bohong-memang-menyenangkan.html