Tipu Daya Wanita (Antara Malu dan Memalukan)
Written By Anonim on Rabu, 30 Juni 2010 | 21.20

Selintas saya mendengarkan lantunan murottal Al-Quran yang dibacakan oleh Syeikh Musyari Rasyid. Indah bacaanya dan enak untuk didengarkan. Indah pula surat yang dibacanya, Surat Yusuf yang penuh dengan hikmah yang mendalam. Di dalamnya terdapat seorang Nabi Yusuf yang merupakan manusia terganteng sejagad raya, serta Zulaikha yang "menghibahkan" keindahan tubuhnya karena tidak tahan dengan cintanya yang mendalam pada Nabi Yusuf.
Salam Perjuangan Faries Elfaez
Seni Membongkar Logika
Written By IFANUDIN on Selasa, 29 Juni 2010 | 21.31

Dalam catatan ini saya hanya ingin mengajak kita semua berpikir di luar logika manusia yang selalu memenjarakan kita dalam bayang-bayang kesempitan hidup. Logika adalah kelebihan manusia yang bersumber dari akal yang dititipkan Allah SWT. pada setiap manusia yang sehat. Pada akal yang sehat akan lahir logika yang kuat dan sulit terbantahkan. Kita ambil contoh sebuah logika sederhana dalam hidup ini, 1 + 1 = 2. Karena satu langkah setelah satu adalah angka 2. Itu logika sederhana yang tentunya sudah dipahami. Namun bagaimana jika saya katakan bahwa 1 + 1 = 0 ? mungkin anda sulit untuk memahami itu dan anda pun tidak sepakat dengan hasil 0 tersebut. Wajar, karena itu bukanlah logika yang telah dipahami bersama. Tapi itu adalah logika hidup dan bukan logika akal atau matematika. Logika hidup tidaklah selalu selaras dengan kaidah akal dan matematika. Karenanya logika hidup akan mengahasilkan bukan hanya angka 0 saja namun mungkin saja bisa juga menghasilkan angka 2 sesuai dengan kaidah matematika. Tergantung bagaimana kita mengelola pertimbangan-pertimbangan dalam setiap langkah kita di dunia ini.
Sampai di sini apakah anda masih bingung ?, saya kira anda pasti paham dengan jalan pikir saya yang di luar logika. Namun walaupun begitu, akan saya berikan contoh ilustrasi logika hidup. Seseorang kuliah di dua tempat ( dua universitas ) dalam tahun yang bersamaan. Berarti dia telah menjalankan logika 1 + 1 = 2. Apakah benar logika yang dijalankan oleh orang tersebut ?. tentunya benar menurut logika matematika, dalam artian dia akan berhasil meraih nilai yang baik di kedua universitas tersebut. Namun menurut logika hidup hasil itu bisa jadi bukanlah 2 tetapi 0. Dalam artian dia akan gagal mendapat nilai baik di kedua universitas tersebut karena fokusnya terpecah dan tidak bisa optimal dalam keduanya. Tetapi bisa juga logika hidup menghasilkan angka 2 selaras dengan logika matematika. Dalam artian dia sanggup untuk kuliah di dua universitas dan meraih nilai yang baik di keduanya. Ini contoh nyata yang telah diterapkan oleh seseorang yang saya kenal cerdas dan mempunyai daya fokus yang sangat luar biasa. Dia berhasil mengelola dan memanajamen kuliah. Dia kuliah di dua universitas, Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) dan Universitas Islam Jakarta (UIJ). Semoga apa yang menjadi cita-citanya tercapai penuh keberkahan. Itulah logika hidup.
Kita beralih ke logika yang lebih rumit untuk dibongkar. Kita tidak akan menggunakan logika matematika sepenuhnya. Kita akan langsung terjun pada logika normatif dan relatif dalam hidup ini. Namun tidak layak pula saya menyebut ini logika, karena sesuatu yang relatif tidaklah memenuhi syarat untuk menjadi logika yang sempurna. Karena ia bersifat subyektif tergantung sejauh mana ilmu, wawasan, pengalaman dan keberanian sang pemilik logika tersebut. Itulah logika yang lebih rumit untuk dibongkar. Membongkar logika normatif dan relatif adalah dengan ilmu, wawasan, pengalaman, dan keberanian yang lebih dari sang pemilik logika tersebut. Ok, kita ambil contoh logika yang normatif dan relatif dalam hidup ini. Banyak pemuda ataupun pemudi yang enggan menikah di usia muda karena takut menghadapi hidup setelah pernikahan, entah itu karena masalah ekonomi atau masalah lain yang ada pada calon suami atau calon isterinya. Logika tersebut tidaklah bisa disalahkan sepenuhnya, namun logika tersebut harus dibongkar dan dirubah menjadi logika normatif dan relatif yang lebih dekat pada sebuah logika yang sempurna dan tidak pula mustahil. Yang diperlukan hanyalah empat hal tadi. Ilmu, Wawasan, Pengalaman dan keberanian sang pembongkar logika agar bisa membongkar logika lain. Logika takut menikah karena masalah ekonomi adalah logika normatif dan relatif. Namun di dunia ini banyak pula pemuda yang berani menikah dalam usia muda dengan keberanian untuk membongkar logika relatif tersebut. Dia yakin akan janji Allah SWT. bahwa Dia akan memberi kekayaan pada hamba-Nya yang menikah. Atas dasar ilmu tersebut dia berani menikah dan tentunya setelah melihat fakta dan pengalaman para pemuda lainnya. Tidak mau menikah karena masalah yang ada pada pribadi calon isteri atau calon suaminya yang dalam pandangan manusia biasa sulit untuk dirubah. Logika tersebut adalah logika normatif. Dan logika tersebut harus dibuang dan dirubah oleh logika yang lebih kuat. Adakah manusia yang sempurna di dunia ini selain Nabi Muhammad SAW. ? jawabanya sudah disepakati, tidak ada manusia yang sempurna selain Beliau. Adakah sesuatu yang tidak bisa dirubah di dunia ini ? jawabanya telah disepakati bahwa segala sesuatu masih mungkin berubah selama dunia ini belum sirna. Hanya saja perlu kesabaran untuk merubahnya dan tidak terburu-buru mengambil langkah, apalagi memvonisnya tidak akan berubah. Perbuatan itu tidaklah bijak dan hanya melihat pandangan sesuai luas pikirannya saja. Terlalu banyak kisah seorang terjahat menjadi seorang yang paling baik setelah dia taubat. Karena hidayah hanyalah milik Allah SWT. Nabi bersabda : "Mungkin saja ada seseorang yang sering mengerjakan amalan ahli neraka, namun di akhir hidupnya dia mengerjakan amalan ahli surga dan akhirnya masuk surga."
Seni membongkar logika di sini dimaksudkan agar kita berani melangkah walaupun manusia memandangnya aneh dan di luar logika mereka. Karena tidak ada logika yang sempurna kecuali logika yang datang dari Allah SWT. bahkan logika matematika pun tidak sempurna. Karena masih memiliki kemungkinan salah walaupun beberapa persen, dan karena logika matemaika alam hanya akan berujung pada angka 0 dan hal itu telah diungkapakan oleh ilmuan ternama Albert Einstein. Berani melangkah di luar logika umum adalah suatu hal positif asalkan sesuai dengan Syariat Allah SWT. jangan takut melangkah jika kita yakin logika yang kita miliki adalah logika yang kuat dan jangan sombong atau keras kepala jika logika yang kita miliki adalah logika yang lemah dan mudah terbantahkan. Kita harus dengan rendah hati, pikiran jernih dan tulus menerima logika yang lebih kuat dari logika kita dan berani melangkah dengan logika tersebut.
Teruslah melangkah dan berusaha karena harapan itu masih ada. Nabi SAW. Bersabda : " Tanamlah pohon walaupun engkau tahu besok akan kiamat." Secara logika umum, menanam pohon padahal kita tahu besok akan kiamat adalah hal yang sia-sia. Namun logika Agama bicara berbeda, itu bukanlah hal yang sia-sia, karena kan mendatangkan pahala bagi orang yang berusaha menanamnya. Jadi, janganlah takut melangkah selama logika kita benar dan rendah hatilah menerima logika yang lebih sempurna yang lebih dekat pada syariat Allah SWT. Wallahu A'lam Bishawaaaab.
Jakarta City, 29 Juni 2010
Salam Perjuangan Faries Elfaez.
Sebuah Misteri Abadi

"Selama dunia ini belum sirna maka segala sesuatu masih mungkin berubah. Sesungguhnya musuh terbesar yang menghalangi kemajuanmu adalah DIRIMU SENDIRI."(Faries Elfaez)
Sungguh siapa yang bisa memastikan sebuah kisah di esok hari. Siapa yang bisa meniscayakan dirinya berhasil di masa depan. Tidak ada yang bisa kecuali Allah SWT. Ini adalah kelemahan manusia agar tidak sombong dan terus berusaha untuk tidak menyerah pada keadaan yang serba kekurangan baik fisik maupun harta. Terlalu banyak kisah untuk diceritakan tentang keberhasilan orang cacat dan orang kekurangan harta. Terlalu banyak. Gagal hari ini belum tentu esok gagal. Sukses hari ini belum tentu esok sukses. Namun kita harus berjalan dan memilih jalan orang-orang yang telah sukses untuk menjadi teladan.
Ingatlah saja Imam Syafi'i. beliau terlahir pada keluarga yang miskin. Namun semangat beliau untuk menuntut ilmu telah membakar semua belenggu-belenggu kemiskinan dan membeli singgasana ilmu dengan ketekunan, kesabaran dan keteguhan. Beliau mengumpulkan kertas-kertas yang sudah tidak terpakai dari pemiliknya untuk dijadikan buku tempat ia menggoreskan tinta emas keilmuannya yang masih harum hingga saat ini.
Ingatlah pula Sahabat Nabi Abdurrahman bin 'Auf ra. Hijrah ke madinah dengan tangan kosong tak memiliki sepeser pun uang untuk makan dan tidak membawa harta kecuali iman di dalam hatinya. Seorang sahabat anshor menawarkan pembagian hartanya separuh untuk dirinya, dan rela menalak salah satu isterinya untuk diberikan kepadanya. Namun semua tawaran itu beliau tolak dengan halus seraya berkata : 'di manakah pasar di madinah ?'. setelah mengetahui pasar madinah, belia mengambil daun dan kelopak kurma, dengan itu beliau membuat kerajinan tangan yang bisa dijual dipasar. Dalam waktu yang singkat beliau menjadi golongan sahabat Nabi yang terkaya. Dan menikah dengan hasil jerih payahnya sendiri. Begitulah kreatifitas sahabat Nabi untuk terus bertahan dan tidak menyerah pada tantangan. Karena tantangan itu ada untuk dihadapi bukan untuk dihindari.
Penulis sendiri merasakan bagaimana hidup ini adalah misteri abadi yang tak akan sanggup diungkap oleh manusia yang lemah. Dulu penulis adalah orang desa yang kolot tidak mengenal teknologi. Bahkan HP pun baru bisa menggunakannya saat masih di Madrasah Aliyah. Dan kini Allah telah menganugerahi kemampuan lebih dalam bidang Komputer dan Internet ( Teknologi Informatika ) walupun dengan otodidak. Alhamdulillah.., semoga bisa bermanfaat untuk diri dan umat.
Siapa pun diri kita, apapun keadaan kita janganlah menyerah pada apa yang telah terjadi. Selama dunia ini belum sirna maka segala sesuatu masih mungkin berubah. Sesungguhnya musuh terbesar yang menghalangi kemajuanmu adalah dirimu sendiri. Jadi tetaplah tersenyum menghadapi kegagalan dan tetaplah tersenyum menyambut masa depan yang lebih baik, insya Allah. Tersenyumlah, karena senyum itu akan mengahapus segala beban yang tersa berat dan menghilangkan rasa sakit yang menusuk. Tersenyumlah setulus mentari yang hadir di pagi hari.
Kita melihat banyaknya kasus bunuh diri karena cinta di Indonesia. Entah itu karena dikhianati atau diputus cinta oleh kekasihnya. Namun janganlah bersedih wahai pecinta sejati. Orang yang mengkhianati cintamu bukanlah orang yang terbaik untukmu. Dan orang yang memutuskan cintamu mungkin saja dia belum mengerti betapa setianya dirimu, atau dia sedang ingin bersuka ria bebas dan lari dari konsekuesnsi cinta yang engkau bangun dengan kesungguhan. Biarkan saja dua tipe orang seperti itu sampai ia menyadari betapa cinta itu bukanlah permainan. Cinta mempunyai konsekuensi yang harus dinikmati dengan ketulusan seberat dan sepahit apapun itu. Ingatlah Isteri Abu zar al-Ghifariyyah ra. yang sangat setia menemani suaminya bagaimanapun keadaan suaminya baik jiwanya maupun fisiknya. Atau Ingatlah Umar ra. yang rela dan ridho mempunyai isteri yang memarahi beliau. Namun di sisi lain engkau pun harus evaluasi diri dan terus memperbaiki diri sehingga tidak mengecewakan suami atau isterimu suatu saat nanti. Bunuh diri karena putus cinta atau dikhianati kekasih adalah jalan terburuk, jalan orang yang memandang dunia ini sebatas yang ia lihat saja. Padahal di sekelilingya banyak hal positif yang bermanfaat dan bisa membawa dirinya menjadi lebih baik. Bunuh diri hanya akan manambah masalah bukan sebuah solusi.
Dunia penuh dengan kemungkinan-kemungkinan. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari, apalagi masa depan. Kita hanya wajib berusaha, melakukan yang terbaik semampu dan sekuat mungkin agar menjadi lebih baik dan lebih baik. Berusaha berubah dari sisi negatif menjadi pribadi yang positif. Dunia ini misteri abadi. Hanya Allah Yang mampu mengetahui akan ke manakah kita nanti dan apa yang akan terjadi pada kita esok hari. Jadi janganlah menyerah dan putus asa, kegagalan hari ini bukanlah untuk selamanya. Lakukan yang terbaik untuk menjadi yang terbaik. Do the best to be the best. Jangan menyerah sebelum engkau mencobanya. Dan yang terpenting adalah tetap sabar, dan tersenyum apapun yang terjadi.
Jakarta City, 27 juni 2010
Salam Perjuangan Faries Elfaez
Tantangan Dakwah Era “Jahiliyah Modern”
Written By Anonim on Minggu, 27 Juni 2010 | 16.53

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS Al-Isra [17]: 16)
Dakwah adalah perjuangan yang memerlukan ketegaran dan ketabahan. Meski Rasulullah Saw menghadapi berbagai tantangan, khususnya dari pembesar kabilah-kabilah di Jazirah Arab, namun semuanya beliau lalui dengan sabar dan konsisten. Refleksi atas perjuangan Rasulullah Saw, khususnya ketika menghadapi berbagai tantangan dari pembesar-pembesar jazirah Arab, sangat relevan dengan konteks saat ini ketika bangsa kita dirundung berbagai bencana yang, salah satunya, diakibatkan ulah para pembesar negeri ini. para pembesar negeri ini selain telah memberi kontribusi terhadap carut-marut tatanan berbangsa dan bernegara, juga menjadi bagian tantangan tersendiri bagi para dai.
Tantangan Dakwah
Para ahli sejarah membagi periode dakwah Nabi Muhammad Saw ke dalam dua periode: Makkah dan Madinah. Periode Makkah dapat dikatakan sebagai periode yang penuh dengan tantangan dan cobaan, dari cacian hingga usaha pembunuhan. Sementara itu, dakwah di Madinah lebih kondusif, karena masyarakatnya lebih beradab.
Di Makkah, reaksi-reaksi keras yang menentang dakwah Nabi Saw bermunculan. Namun, usaha-usaha dakwahnya tetap dilanjutkan terus tanpa mengenal lelah, sehingga hasilnya mulai nyata. Jumlah pengikut Nabi Saw yang tadinya hanya belasan orang, makin hari makin bertambah. Hampir setiap hari ada yang menggabungkan diri ke dalam barisan pemeluk Islam. Mereka terutama terdiri dari kaum wanita, kaum budak, pekerja, dan orang-orang miskin serta lemah. Meskipun kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang lemah, namun semangat yang mendorong mereka beriman sangat membaja.
Tantangan yang paling keras terhadap dakwah Nabi Saw datang dari para penguasa dan pengusaha Mekah, kaum feodal, dan para pemilik budak. Mereka ingin mempertahankan tradisi lama. Mereka khawatir jika struktur masyarakat dan kepentingan-kepentingan dagang mereka akan goyah oleh ajaran Nabi Muhammad Saw yang menekankan keadilan sosial dan persamaan derajat. Mereka menyusun siasat untuk dapat melepaskan hubungan antara Abi Talib dan Nabi Muhammad Saw. Mereka meminta agar Abu Thalib memilih satu di antara dua: memerintahkan Nabi Muhammad Saw agar berhenti berdakwah atau menyerahkan kepada mereka. Abu Thalib terpengaruh kemudian meminta agar Nabi Muhammad Saw menghentikan dakwahnya. Tapi Nabi Muhammad Saw menolak sembari berkata, “Demi Allah saya tidak akan berhenti memperjuangkan amanat Allah ini, walaupun seluruh anggota keluarga dan sanak saudara akan mengucilkan saya.” Mendengar jawaban kemenakannya itu, Abi Talib kemudian berkata, “Teruskanlah, demi Allah aku akan terus membelamu.”
Gagal menghentikan dakwah Nabi Muhammad Saw dengan bujuk rayu, kaum Quraiys mulai melakukan tindak kekerasan. Orang-orang dengan lemah dan para budak yang memeluk Islam, bahkan Nabi Muhammad Saw sendiri, tidak luput dari kekejaman mereka. Terutama para budak, mereka disiksa dengan sangat kejam di luar perikemanusiaan oleh tuan-tuan mereka. Mereka dipukul, dicambuk, dan tidak diberi makan dan minum. Ada yang ditelentangkan di atas pasir yang panas dan di atas dadanya diletakkan batu yang besar nan berat.
Mereka yang merdeka pun juga mendapat siksaan dari keluarga mereka yang masih bertahan dalam agama nenek moyang. Setiap suku diminta menghukum dan menyiksa anggota keluarganya yang masuk Islam sampai dia murtad kembali. Usman bin Affan, misalnya, dikurung dalam kamar gelap dan dipukuli sampai babak belur oleh anggota keluarganya sendiri. Orang-orang yang tidak mempunyai pelindung yang disegani, seperti Abu Bakar, mendapat tindakan yang lebih keras. Secara keseluruhan, sejak saat itu umat Islam mendapat siksaan yang pedih dari kaum Quraiys Mekah. Mereka dilempari kotoran, dihalangi untuk melakukan ibadah di Ka’bah, dan lain sebagainya.
Berbagai usaha dilakukan orang-orang Quraiys untuk menghalangi hijrah ke Habasyah ini, termasuk membujuk raja agar menolak kehadiran umat Islam di sana. Namun, berbagai usaha itu gagal juga. Semakin kejam mereka memperlakukan umat Islam, semakin bertambah jumlah yang memeluk Islam. Bahkan di tengah meningkatnya kekejaman itu, dua orang kuat Quraisy masuk Islam, yakni Hamzah bin Abdul Muthalib dan Umar bin Khatab. Dengan masuk Islamnya dua orang yang dijuluki “Singa Arab” itu, semakin kuatlah posisi umat Islam dan dakwah Muhammad Saw. pada waktu itu. (Ensiklopedi Islam, 2001: 265-266)
Kedurhakaan Pembesar
Dalam Alquran, salah satu tantangan besar dalam dakwah adalah orang-orang kaya dan berpengaruh tetapi mereka durhaka. Mereka itulah yang disebut Alquran sebagai “mutrafin”, yang menyebabkan hancurnya suatu negeri. Perilaku kaum mutrafin dilukiskan dalam Alquran, “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan orang-orang yang hidup mewah di dalamnya, lalu mereka melakukan kedurhakaan di dalamnya, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan Kami, maka Kami hancurkan sehancur-hancurnya,”(QS Al-Isra [17]: 16).
Menurut Quraish Shihab, ayat tersebut menjelaskan salah satu sunatullah yang berlaku untuk jatuhnya suatu siksa bagi kaum yang durhaka. Secara tidak langsung ayat itu mengatakan: “Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri yang durhaka, sesuai dengan ketetapan dan kebijaksanaan Kami, maka Kami perintahkan orang-orang yang hidup mewah di dalamnya, yakni di negeri itu supaya menaati Allah dan Rasul-Nya, tetapi mereka enggan lalu mereka melakukan kedurhakaan yakni penganiayaan dan perusakan di dalamnya yakni di negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan yakni ketentuan Kami, maka Kami menghancurkannya yakni penduduk negeri itu dan atau bersama negeri itu sehancur-hancurnya sehingga mereka tidak bangkit lagi sebagai satu orde atau sistem kemasyarakatan (Tafsir al-Misbah, Vol. 7, 2005: 432).
Tantangan terbesar dakwah adalah mereka yang berpengaruh di mata masyarakat. Kelompok ini melecehkan dan berusaha menghambat dakwah, baik langsung maupun tidak, bisa dilihat dari perbuatan atau kebijakannya serta dampak dari perbuatan dan kebijakan tersebut. Dalam konteks kekinian, tantangan dakwah terbesar adalah para penguasa dan para pengusaha yang dengan kekuasaan dan kekuatan modal bisa dengan mudah mengeksploitasi sumberdaya alam serta mempolitisasi rakyat untuk kepentingan diri dan kelompoknya.
Sikap dan tindakan mereka memang tidak langsung menentang para dai atau mubalig dan menghambat kegiatan dakwah. Namun, dari sisi perilaku dan kebijakannya jauh dari nilai-nilai dakwah Islam yang diajarkan oleh para ulama. Dampak dari tindakannya itu pula dirasakan oleh masyarakat sangat merugikan.
Tekad Berdakwah
Dalam menghadapi kelompok ini, para dai dituntut memiliki tekad yang kuat untuk berdakwah dan kerelaan berkurban, baik jiwa, raga, maupun harta dengan sampainya ajaran Islam sehingga mengubah tindakan yang menzalimi masyarakat. Selain itu, diperlukan figur dai yang mempunyai semangat jihad tinggi; berani berkata tidak dan mengkritik pemerintah serta siap menghadapi segala resiko di medan perjuangan dan konsisten menyampaikan kebenaran.
Jika kita telusuri sejarah umat-umat ter-dahulu, lahirnya penentang dakwah, baik kolektif maupun perorangan, bukanlah hal baru. Ini sudah menjadi bagian dari sejarah dakwah Islam dari masa ke masa. Dalam Alquran, kelompok ini disebut mutrafin. Yaitu mereka yang diberi nikmat, tetapi tidak bersyukur; mereka yang hidup dalam kemewahan, kekuasaan, kepintaran, tapi digunakan dalam kezaliman. Segala karunia yang diberikan-Nya, bukan digunakan dalam kebajikan, namun justru merugikan orang lain.
Meski dakwah semarak, tetapi semangat pengamalan masih kurang sungguh-sungguh. Banyaknya tindak kejahatan, khususnya yang dilakukan oleh “santri-santri berdasi”, yang secara moral keagamaan merupakan bentuk kezaliman, adalah di antara bukti nyata bahwa respon masyarakat terhadap dakwah Islam selama ini baru sebatas pembelajaran. Belum banyak menyentuh hati nurani umat sehingga berpengaruh terhadap prilaku sehari-hari.
Sumber : www.cmm.or.id
