LSO-SBC
Written By Anonim on Sabtu, 31 Mei 2008 | 20.06
IKHWAH WA AKHOWATI FILLAH.....
KAMMI SELAKU PENGURUS LEMBAGA SEMI OTONOM-SYARI'AH BISNIS CENTER (LSO-SBC) KAMMI KOMISARIAT LIPIA MENJUAL BERANEKA MACAM JENIS BARANG SEBAGAI BERIKUT :
1. JAKET LIPIA & JAKET KAMMI
2. MACAM-MACAM AKSESORIS LIPIA & KAMMI
3. BAJU & KAOS LIPIA & KAMMI
4. DAN LAIN-LAIN
ANTUM & ANTUNNA BISA MENGHUBUNGI KAMI DI SEKRETARIAT KAMMI KOMISARIAT LIPIA : Jl.H.ASNAWI NO.23 B RT/RW.003/05 JATI PADANG-PASAR MINGGU-JAKARTA SELATAN, TELEPON : 021-78837435 / HP : 08999114194
SEGERA PESAN SEBELUM KEHABISAN.......!
WASSALAMU'ALAIKUM WA RAHMATULLAHI WA BARAKATUH.
BENANG DAN SUMBU
Benang dan sumbu
Puluhan tahun lalu oleh debu
Membumbung ditinggal jejak pengejar layangan
Setiap musim dingin tiba
Setiap serpih salju menumpuk, menimbun
Dan langit Kabul mengepul
Puluhan tahun setelahnya oleh mesiu
Berantakan
Meranggas, kerontang dan pilu mirip seorang tua buntungYang kau temukan diemperan toko
Di tengah tumpukan jerami
Akan berkumandang pekikan dan tatapan itu
Serupa sorak sorai silam
Akan terlihat puluhan manusiaBerlari
Wahai telah hilanglah kabul sejahtera, subur dan tertawa
Mirip segerombolan anak pengejar layangan
Yang kau tatap di tepi lapangan.
Ketika bergema lagi satu ledakan,
Kau menyadari
Benang itu telah berubah menjadi sumbu
60 TAHUN TRAGEDI NAKBAH PALESTINA



Nakbah adalah suatu kata yang berasal dari bahasa Arab, oleh rakyat Palestina dijadikan istilah yang sangat menyedihkan untuk dikenang. Nakbah adalah suatu musibah, bencana atau malapetaka bagi rakyat Palestina yang disebabkan oleh kebiadaban teroris Israel sehingga mereka meninggalkan rumah dan kampung halamannya untuk hijrah menyelamatkan jiwa dan iman yang melekat di dalam dada.Pada 14 mei ini, tepat 60 tahun bangsa Palestina terusir dari tanah kelahiran menyusul berdirinya Negara zionis Israel atau nakbah. Sangat kontras dengan mereka selama seminggu penuh Israel menggelar perta besar-besaran merayakan berdirinya Negara mereka di atas penderitaan bangsa palestina. Bagi Israel, terusirnya jutaan rakyat Palestina adalah bagian dari sebuah perjuangan kemerdekaan yang menjadi dasar bagi berdirinya sebuah Negara Yahudi Israel.
Peristiwa itu diawali dengan tindakan teror, penangkapan dan pembantaian yang dilakukan oleh teroris Irgun pimpinan Menachem Begin terhadap warga Palestina Tiberius pada tanggal 18 April 1948, menyebabkan 5.500 orang rakyat Palestina mengungsi menyelamatkan diri. Setelah melakukan teror dan tindakan berutal kepada anak-anak dan kaum wanita, menghancurkan rumah penduduk, maka sekitar 70.000 orang rakyat Palestina mengungsi meninggalkan kampung halamannya dengan perasaan sedih dan linangan air mata, akhirnya kota Haifa jatuh ke tangan teroris Israel. Sungguh sangat menyedihkan!
Tanggal 22 April 1948, teroris Irgun yang dipimpin Menachem Begin, pernah menjabat Perdana Menteri Israel dari partai Likud (21 Juni 1977-10 Oktober 1983), membombardir fasilitas-fasilitas milik rakyat sipil di kota Jaffa, kota terbesar di Palestina pada saat itu, menyebabkan 750.000 rakyat Palestina ketakutan dan panik pergi mengungsi.Tanggal 14 Mei 1948, teroris Zionis Israel berhasil menguasai kota Jaffa dan saat itu hanya sekitar 4.500 rakyat Palestina yang tersisa di kota tersebut.Tanggal 14 Mei 19kul 16.00 waktu setempat, David Ben Gurion, tokoh Zionis Desember1953), secara sepihak memproklamirkan berdirinya “Negara Zionis Israel” yang pada hakekatnya merupakan penegasan tentang awal penjajahan Zionis Israel terhadap rakyat Palestina yang didudukung Amerika Serikat. Terbukti hanya berselang 10 menit setelah proklamasi “Kemerdekaan Zionis Israel”, Presiden AS Harry S. Truman langung mengumumkan sikap resmi
negaranya, mengakui dan mendukung berdirinya “Negara Zionis Israel” di atas bumi Palestina, serta langsung membuka hubungan diplomatik secara resmi.
Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa, "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!."(QS: An Nisaa/4: 75)
Dari Abu Hurairah ra berkata " Rasulullah SAW bersabda ; " orang mu'min yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah SWT daripada orang mu'min yang lemah, dan masing-masing ada kebaikannya tapi perhatikanlah apapun yang bermanfaat buat dirimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah SWT. Dan jangan engkau merasa lemah atau putus asa, jika engkau dapat musibah janganlah engkau mengatakan andaikan saja saya tadi melakukan sesuatu niscaya akan begini, akan tetapi katakanlah Allah SWT telah menentukan segala sesuatu dan apapun yang Dia kehendaki pasti terjadi, karena mengandai-andai itu dapat membuka pintu setan. ( HR. Muslim )
PERAN PEMUDA DALAM DAKWAH
.jpg)
Dalam perjalanan dakwah, peran pemuda sangatlah penting. Bisa kita lihat ke masa lalu, saat Nabi hijrah ke Madinah, yang menyambutnya pertama kali adalah para pemuda. Oleh karena itu, kekuatan Islam di sana bertambah kuat, dan dengan semangat para pemuda kita, Indonesia bisa mencapai kemerdekaan yang telah dinantikan selama berabad-abad. Semua itu tidak lepas dari campur tangan pemuda. Dan dari pemuda itulah muncul ide-ide atau gagasan yang menakjubkan. Masa muda adalah masa dimana perubahan-perubahan yang signifikan terjadi. Hal itu dikarenakan pada masa muda beban yang diemban belumlah begitu berat, tidak seperti beban yang telah ditanggung oleh para orangtua yang berkewajiban untuk menghidupi anak dan istrinya.
Jika dilihat populasi pemuda di Indonesia cukuplah besar. Namun demikian, jumlah pemuda yang cukup signifikan itu secara kualitas mencemaskan. Masih banyak pemuda yang tak mengenal jati dirinya, bahkan menjadi beban bagi proses pembangunan dan perubahan. Jumlah pemuda yang terjebak pada narkoba semakin mengkhawatirkan, pengangguran di kalangan pemuda semakin meningkat, pemuda yang tak memiliki keterampilan (unskill) semakin banyak.
Tingkat pendidikan yang rendah juga terjadi di kalangan pemuda. Inilah setidaknya sederet masalah yang ada dalam dunia kepemudaan yang menyebabkan mereka tidak dapat menjadi varibel penting dalam mendorong perubahan.
Padahal dalam konteks historis bangsa ini, peran pemuda cukuplah besar. Sebagaimana kita ketahui sejarah pemuda adalah sejarah heroik. Dalam setiap derap perubahan bangsa, peran pemuda selalu menonjol dan berada di garda depan. Pemuda telah menjadi pelopor pendirian bangsa. Momentum atau sejarah yang telah diisi oleh pemuda dengan tinta emas, antara lain, sejarah Kebangkitan Nasional, sejarah Sumpah Pemuda, dan sejarah kemerdekaan Indonesia.
Kita lihat saja qudwah kita Rasulullah, beliau sejak umur 12 th sudah menjadi seorang profesional. Beliau sudah melakukan perdagangan ke laur negeri. dan masih banyak lagi. Ini bisa menginspirasi kita bahwa kita pasti bisa memajukan dakwah yang ada di sekitar kita. Dengan keyakinan yang kuat akan bantuan dari Allah, Insya Allah kita bisa melakukannya.
Jika kita ingin melihat nasib bangsa ke depan, lihatlah pemudanya saat ini. Biarlah para petinggi kita melakukan korupsi, insya Allah besok kita bisa menggantikannya, dan memajukan Indonesia.
”Sesungguhnya roda Islam itu seantiasa berputar. Adakalanya ia di atas dan adakalanya iadi bawah, lalu ia akan berputar ke atas kembali. Maka ikut berputarlah kamu, kemana saja roda Islam itu berputar. Hingga Allah menemukan satu dari dua kebaikan: MATI SYAHID ATAU KEMENANGAN”.
SIAPA PEMUDA ?
Written By Anonim on Kamis, 29 Mei 2008 | 12.22
SIAPA PEMUDA ?
Oleh : Ifanudin
Di dalam kompetisi zaman dan kehidupan pemuda selalu tampil penuh gairah, semangat tinggi, dan tekad yang membaja. Mereka seakan merupakan kuda hitam yang selalu memimpin dalam setiap putaran zaman. Dari para pemuda itulah lahir berbagai inovasi, dan kemajuan yang sangat signifikan. Dari pemuda itulah sebuah bangsa akan maju dan bahkan akan mundur, dari pemuda juga perubahan-perubahan bisa dilakukan dengan kontinyu. Karena sejatinya pemuda itu menginginkan perubahan dan perubahan.
Al-Quran pun menobatkan kisah seorang pemuda shalih menjadi kisah yang terbaik sepanjang zaman. Kisah itu adalah kisah tentang Nabi Yusuf as. Di sini saya mencoba menganalisa kisah tersebut dan bukan menafsirkan. Ketika Yusuf as, telah mencapai umur baligh istri tuannya tertarik dengan dirinya. Tak tanggung-tanggung istri tuannya mengunci dirinya dan Yusuf dalam satu kamar dan mengajaknya untuk berbuat zina. Apa yang akan kita lakukan jika kita berada dalam posisi sebagai Yusuf ? mungkin kita tidak bias membayangkan jika kita dalam posisi sepertinya. Mungkin saja kita akan meladeni tawaran zina tersebut. Namun Yusuf adalah pemuda yang shalih, ia segera berlindung kepada Allah. Namun walaupun begitu dalam diri Yusuf ada rasa keinginan untuk melakukan tetapi akal sehatnya lebih dominan dari pada hawa nafsunya sehingga ia terbebas dari jebakan setan tersebut.
Banyak nabi-nabi yang diutus oleh Allah dalam usia muda. Nabi Sulaiman, Nabi Ibrahim, Nabi Yusuf, Nabi Ismail, Nabi Musa, dan masih banyak Nabi-nabi lain yang diutus untuk mengadakan suatu terobosan dan perubahan pada umatnya masing-masing. Banyaknya Nabi-nabi yang diutus dalam usia muda tersebut bisa kita ambil hikmahnya. Hikmah itu adalah bahwasannya suatu perubahan akan maksimal jika dikomandoi oleh pemuda. Pemuda itulah yang kelak akan menjadi pemimpin perubahan dalam setiap putaran zaman.
Lalu siapakah pemuda ? apakah pemuda adalah mereka yang masih berumur muda atau mereka yang tetap memiliki semangat muda ? memang secara biologis seseorang dikatakan muda jika masih berumur muda. Namun saya berpandangan bahwa pemuda sejati adalah mereka yang masih muda dan memiliki semangat pemuda atau mereka yang sudah tua namun masih semangat bagaikan pemuda, itulah pemuda sejati. Dan saya katakan bahwasanya seorang yang berumur muda namun tidak memiliki semangat adalah termasuk orang yang tua. Oleh karena itu menjadi pemuda adalah pilihan diri kita masing-masing. Apakah kita termasuk pemuda? Tentunya sekarang kita bisa menjawabnya.
Setidaknya pemuda memiliki bannyak kesempatan untuk selalu menciptakan karya-karyanya dalam banyak bentuk, baik berupa tulisan, penemuan sains, sastra, di lingkup kehidupannya. Ada beberapa kendala yang menimpa para pemuda, pemuda terkadang diremehkan oleh barisan tua yang merasa dirinya paling senior dan lebih ahli dari yang muda. Semestinya paradigm seperti ini harus hilang dari para senior dalam berbagai bidang, entah itu perusahaan, organisasi, atau pun dalam lingkup keluarga. Hal seperti itu jika tidak segera dihilangkan akan menghambat kreatifitas kaum muda dan akan menjadikan keadaan menjadi kaku dan membosankan akibat pengekangan yang dilakukan para senior terhadap yang lebih muda. Dalam benak seorang pemuda sebenarnya ada keinginan untuk selalu berubah dan merubah, tetapi terkadang para seniornya yang menjadi penghambat dan penjegal pemuda untuk menuangkan ide-ide cemerlangnya. Mereka tidak percaya dengan pemuda dengan alasan yang kurang logis dan klasik, yakni tidak berpengalaman. Saya katakan " bagaimana anda bisa mengatakan hasilnya tidak baik karena tidak berpengalaman sedangkan anda tidak memberi para pemuda itu sebuah kesempatan untuk mengekspresikan ide-idenya? "
begitu pula sebaliknya, terkadang para senior itu memberikan kesempatan kepada pemuda. Namun Sang pemuda tidak bisa memanfaatkan momentum itu dengan maksimal sehingga menghilangkan kepercayaan para senior yang telah memberikan kesempatan. Dari sini, pemuda semestinya memanfaatkan segala momentum yang memberinya kesempatan untuk berekspresi dengan semaksimal mungkin. karena kesempatan mungkin tidak akan pernah datang untuk yang kali kedua. Maka beruntunglah pemuda yang bisa memaksimalkan kesempatan-kesempatan yang menghamprinya. Karena hal itu akan menambah kepercayaan orang lain teruitama para senior akan kualiatas pemuda.
Dan yang perlu kita ingat adalah masa muda merupakan masa emas dari seseorang. Siapa yang bisa mengisinya dengan iman dan kebaikan maka beruintung. Dan ingat pula kita akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah tentang masa muda kita. Suatu bangsa akan maju jika para pemudanya berakhlak baik dan penuh gairah semangat perubahan. Sebaliknya suatu bangsa akan tenggelam jika tidak ada lagi pemuda yang berjiwa muda dan pemudanya berakhlak buruk dan bergaul dengan sebebas-bebasnya tanpa kontrol iman.
Akhirnya para pemuda itu adalah mereka yang berumur muda dan mempunyai jiwa muda yang selalu semangat dalam menuju perubahan kea arah yang lebih baik atau pun mereka yang sudah tua namun tetap memiliki jiwa muda. Selamat kepada para pemuda, umat Islam sangat memerlukan ide-ide cenmerlangmu untuk membangkitkan kembali keberanian dan kejayaan Islam. Karena pemudalah sebuah agenda perubahan akan selalu bergulir , Karena pemudalah kemajuan dan kemunduran akan ditentukan. Hidup para pemuda, Allahu Akbar !!!
POLITIK DAN DAKWAH
Written By Anonim on Rabu, 28 Mei 2008 | 01.36

Setiap mendengar dan membaca hal-hal yang mengenai politik, maka pikiran kebanyakan orang akan tertuju pada gedung parlemen, istana negara dan bendera-bendera yang bertebaran di sepanjang tepi jalan. Sulit untuk mendefinisikan, pagi kedelai sore tempe, memang itulah kebanyakan politik yang berjalan di negeri ini, politik yang menganut paham barat yang salah kaprah.
Orang berilmu dan bijak tentu saja tidak akan langsung membenarkan 100% anggapan seperti itu, islam sebagai agama yang syumul (meyeluruh) tidak melarang umatnya untuk memikirkan nasib negerinya, apabila negeri yang mayoritas muslim ini tidak dipikirkan oleh kita, sebagai muslim, maka apakah kita akan rela begitu saja dipimpin anak buah para taghut? Jawabanya pasti tidak "Seorang muslim tidak akan sempurna keislamanya kecuali bila ia menjadi politikus yang memiliki wawasan luas dalam memikirkan urusan umatnya, menaruh perhatian besar pada kepentingan mereka dan mempunyai rasa kepekaan terhadap kehormatan mereka."Dalam artian politik yang menaruh perhatian pada kepentingan umat secara keseluruhan tanpa terikat sedikitpun oleh system politik liberal.
Para musuh islam berusha mempersempit pengertian islam, sehingga islam hanya tinggal kulitnya saja. Sebuah formalitas yang tidak mengobati lapar dan dahaga. Mereka menyuguhkan asumsi kepada umat islam bahwa islam hanyalah islam yang memakmurkan masjid dan keluarga yang tidak mempunyai relevensi dengan urusan sosial. Islam tidak ada hubunganya dengan hukum tatanegara, ekonomi, dan ilmu pengetahuan, oleh karena itu islam harus dijauhkan dari arena politik.
Coba kita berpikir secara jernih, jika islam itu agama yang tidak menangani masalah politik, sosial, ekonomi dan ilmu pengetahuan, lalu apa yang dimaksud islam rahmatan lil alamin? Apakah pengertian islam hanya terbatas pada jumlah roka'at sholat yang kosong dari konsentrasi hati mengingat allah?Ataukah ia hanya merupakan susunan kalimat istigfar yang menurut penilaian robi'ah adawiyah, istigfar yang membutuhkan istigfar? Hanya untuk itukah alqur'an sebagai system yang lengkap, universal, dan sesuai di seluruh zaman dan waktu diturunkan?.
Kalau kita pernah mambaca sejarah para rasul dan sahabat, marilah kita urai benang –benang yang mengikat ingatan kita, saat pertama kali menginjakkan kaki di madinah, apa yang dikerjakan pertama kali oleh rusulullah saw?. beliau membuat pusat pemerintahan yang memadukan dua kelompok anshor dan muhajirin untuk menata kehidupan kembali setelah meninggalkan kampung halaman (makkah) dan menata jalanya perputaran ekonomi diantara mereka. Kholifah Umar bin Khotob rela untuk tidak istirahat walaupun sejenak, beliau rela untuk tidak makan sebelum rakyatnya nyaman dan kenyang.apakah kita tetap menutup jendela ingatan kita tentang itu semua?
Sebagai da'i maka tugas kita adalah menyampaikan risalah dengan sejujurnya. Kita yakin bahwa kebatilan pasti akan sirna dan jangan pernah merasa bahwa diri kita yang paling benar dan bisa. Wafauqo kulli dzi ilmin, alim.Wallohu a'lam bis showab.
By:ibnu subandi
KARENA AKU MENCINTAIMU
KARENA AKU MENCINTAIMU
"Duhai Abdullah, janganlah kau seperti si Fulan. Dia bangun di malam hari tetapi tidak melakukan Qiyaamullail." (Muttafaq 'Alaih)
Cinta. Satu kata yang sulit untuk dideskripsikan. Diksi yang tidak mudah untuk didefinisikan. Sudah begitu banyak orang berbicara tentang cinta akan tetapi belum ada yang dapat memuat seluruh makna yang terkandung dalam kata dahsyat ini. Betapa banyak mereka yang mencoba merangkai kata untuk menterjemahkan makna cinta, tetapi mereka gagal karena cinta bukan rangkaian kata semata. Bukan juga angan-angan belaka. Cinta adalah ekspresi hati dan jiwa yang menjelma menjadi kerja dan karya nyata.
Kekuatan cintalah yang membangun harmoni yang begitu memesona dalam kehidupan orang-orang pilihan yang menyertai Rasulullah saw. Betapa tidak, kekokohan ukhuwah yang dibuktikan oleh kaum Anshor kepada kaum muhajirin yang hijrah ke Madinah saat itu menjadi saksi yang ditulis sejarah peradaban dunia yang tak kan terlupakan. Potongan ekspresi cinta yang terjadi hari itu di rumah Anas bin malik,seorang sahabat dari kaum Anshor menjadi suatu yang lain yang memperindah makna cinta yang ada sebelumnya. Hari itu Rasulullah mempertemukan para sahabat dari kaum muhajirin yang hijrah ke madinah dengan kaum anshor yang memang tinggal di Madinah. Ketika itu suasana rumah yang sederhana itu dilingkupi aroma cinta yang begitu semerbak, cinta yang terjelma dari kekokohan nilai iman. Cinta yang terbangun dari matanatul ukhuwah. Kita dapat mengmbil contoh Seorang Sa'd bin Ar Rabi' seperti diceritakan oleh Al Bukhori dalam Shahihnya menawarkan salah seluruh hartanya dan merelakan satu istrinya untuk ia ceraikan demi saudaranya Abdurrahman bin Auf jika ia berkenan. Begitulah kata cinta telah merasuk ke relung jiwa mereka lalu menjelma menjadi sebuah kerja nyata.
Ikhwati….
Tentunya orang yang paling kita cintai adalah diri kita sendiri. Namun ada hal lain yang menjadikan Umar bin Khattab bergegas merubah persepsinya tentang cinta ketika beliau ditanyai siapa yang paling ia cintai, dan iapun menjawab Allah dan RasulNya lah yang lebih ia cintai, kecuali dari dirinya sendiri. Bahwa cinta tertinggi adalah cinta kepada Allah Dan RasulNya di atas segalanya, termasuk diri sendiri.
Kehidupan kita sebagai seorang mukmin tak bisa terlepas dari intraksi kita dengan saudara mukmin yang lain. Pun ketika berbicara tentang cinta, maka nilai cinta kita terhadap sesama adalah berbanding lurus dengan kecintaan kita terhadap diri kita sendiri. Tampaknya kita harus berhenti sejenak. Kita merenung sebentar saja, tentang batas cinta kita terhadap sesama, tentang kadar cinta kita kepada saudara seiman. Karena Rasulullah saw. Mengungkapkan bahwasannya tiadalah beriman seseorang sebelum kadar cintanya kepada sesama mukmin berbanding lurus dengan kecintaannya kepada dirinya sendiri. Jangan-jangan masih ada perasangka buruk terhadap saudara kita, kendati mereka dekat dengan kita Wal'iyaadzubillah
Tradisi saling menasehati adalah makna lain dari muatan cinta yang pernah diekspresikan oleh orang-orang terbaik umat ini. Agaknya, dari persepsi inilah kita dapat menemukan sebab kenapa para sahabat selalu membacakan surat Al Ashr satu sama lain sebelum merka berpisah, begitu pula yang menjadikan hati Muadz Bin jabal tergerak untuk mengajak saudaranya seiman untuk sejenak duduk dengan ajakan mesra "Ta'al nu'min saa'atan". Jawabannya adalah rasa cinta. Cinta. Bahwa kemudian kesukaan kita untuk melakukan amal kebaikan haruslah menjadi suatu kesukaan plus ketika kebaikan itu dapat dirasakan nikmatnya oleh saudara kita yang lain. Kecintaan Rasulullah untuk melakukan Qiyamul lail, ada kenikmatan yang beliau rasakan ketika bermunajat di pertengah malan terakhir hingga saking nikmatnya kaki beliau menjadi bengkak pun tak terasa. Dan begtitulah Rasulullah saw juga mencintai orang-orang yang da di sekitrnya dapat merasakan kenikmatan itu. Seperti halnya baliau mencintai jika amal tersebut dilakukan oleh seluruh umatnya. Suatu ketika beliau berpesan kepada Abdullah Bin Umar yang saat itu masih belum menginjak remaja. "Duhai Abdullah, janganlah kau seperti si Fulan. Dia bangun di malam hari tetapi tidak melakukan Qiyaamullail."
Ekspresi cinta itu terungkap dengan beragam cara. Namun yang jelas, jari ini menari di atas key board ini karena aku cinta padamu. Saudara.
Dari Syauqi Beik
Buat anda yang merasa dicinta
NAHNU QAUMUN 'AMALIYYUN

NAHNU QAUMUN 'AMALIYYUN
Saudaraku.. rekan-rekan pejuang
Rangkaian tiga kata di atas mungkin tidak asing lagi bagi kita, para da'i di jalan Allah (semoga pantas dikatakan demikian), para aktivis harakah penegak tonggak kebangkitan ummat. Kata tersebut teruntai lirih dari lisan seorang prajurit Allah, seorang komando penggerak mesin peradaban, Al Imam Hasan Al Banna beberapa tahun yang silam.
Kata penuh makna itu terlontar dan menjelma menjadi serangkaian karya nyata yang dipersembahkan oleh putra-putri terbaik umat ini sepanjang masa. Hingga kita rasakan manisnya dan semerbak wanginya sampai detik ini. Kita adalah komunitas pekerja di jalan Allah, kita adalah pribadi-pribadi yang selalu gemar berkontribusi untuk Allah; sebab begitulah sesungguhnya hakikat detik waktu yang kita miliki, ia adalah masa untuk berkarya. Allah SWT mengisyaratkan hal tersebut dalam surat Al Mulk ayat ke-dua:
الذي خلق الموت والحياة ليبلوكم أيكم أحسن عملا وهو العزيز الغفور
" Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun."
Perjalanan kehidupan ini selalu akan melewati aneka ragam ujian yang telah disiapkan Allah untuk hamba-hambaNya. Dan dengan ujian tersebut Allah akan mengetahui yang kokoh dari yang ringkih dan yang tegar dari yang lemah, liyamiizallahu al khabits min atthoyyib, dan dengan ujian itulah akan terbukti amal-amal nyata setiap hamba, siapa yang terbaik amalnya bukan hanya sekedar retorika belaka dan tidak hanya kata iman dari lisan saja.
Tentunya kita mengenal sosok hawariyyun yang setia kepada Nabi Isa as. Yang selalu sigap menyambut seruan dakwah ketika mereka dengan serempak dan serentak mengatakan "nahnu Anshorullah" ungkapan penuh gelora untuk beramal, menguatkan semangat Sang Nabi. Kita pula mengenal kesetiaan prajurit-prajurit Sulaiman yang siap mempersembahkan inisiatif cerdasnya untuk kemenangan dakwah kendati belum pula datang komando untuk mereka sampai kemenangan itu menjadi nyata. Begitu pula generasi awal umat ini yang tertarbiyah oleh manusia terbaik sepanjang zaman, Rasulullah saw. Tak pernah mengenal kata lelah untuk sebuah perjuangan demi tegaknya al haq yang pasti menang. Demikianlah para utusan Allah, pembawa risalah itu selalu memiliki orang-orang yang setia membela dan berjuang, tiada kenal kata lelah dan tak pernah berkata munyerah.
وكأين من نبي قاتل معه ربيون كثير فما وهنوا لما أصابهم في سبيل الله وما ضعفوا ومااستكانوا والله يحب الصابرين
"Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. mereka tidak menjadi lemah Karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar." (Ali Imron: 146)
Ayyuhal ikhwah..
Kompleksitas permasalahan yang melanda negeri ini butuh kerja dan karya nyata dari setiap anak bangsa, anak generasi yang tidak hanya menyalahkan keadaan. Keadaan tidak memaksa kita untuk menjerit mengelu, tapi kondisi itu mendidik kita untuk berfikir dan mencari solusi, selanjutnya berkarya. Permasalahan bukan datang untuk kita ratapi tapi ia tiba untuk mengajarkan kita arti sebuah kedewasaan, mentarbiyah kita menjadi orang-orang yang menang, tidak putus asa. Alaisa minkum rojulun rosyiid…
Sudah selayaknya seluruh entitas yang hidup di negeri ini berhenti mencerca kelam, namun waktunya kini bersama nyalakan lilin amal nyata untuk datangkan terang. Sudah saatnya kita bawa obor perubahan agar mereka yang hidup menghuni belahan kecil alam yang diciptakan Allah ini dapat merasakan hangatnya Indonesia. Agar mereka yang bernaung di bawah atap negeri ini dapat tersenyum menatap dunia dengan damai. Bukan mengeluh karena gersang dan 'kering'nya nusantara.
Ruang kerja kita tidak terbatas pada lingkup organisasi yang kita berada di dalamnya, atau pun profesi yang kita geluti, dan bukan pula terbatas pada georafis tempat yang kini kita huni. Akan tetapi ruang amal yang disediakan oleh Allah untuk hambanya begitu luas, seluas cakrawala yang terhampar di hadapan setiap kita. Namun skala prioritaslah kemudian yang menjadikan seluruh ragam amal itu berbeda tingkat frekuensinya, maka jika anda adalah hamba Allah yang bijak bekerjalah pada titik terpenting yang anda lakoni dengan baik karena Rasulullah menyakai dari ummatnya suatu pekerjaan yang ditekuni (itqonul amal) dan berbaurlah pada amal–amal yang lain untuk menyumbang kontribusi anda yang terbaik karena secercah demi secercah cahaya itu akan mengumpul membuat titik difergen yang kuat untuk selanjutnya menyebar (berkonfergen) memberi manfaat kepada setiap makhluk yang menghuni semesta ini.
Akhi .. ukhti..
Para pengusung kebenaran itu pasti akan ada sepanjang masa, sepanjang pertarungan antara yang haq dan yang bathil tetap ada. Seperti halnya para pembawa cahaya perubahan sepanjang masa, sepanjang Allah menjadikan waktu ini berputar, sejauh Allah mempergilirkan keadaan. Yang dituntut dari saya, anda dan kita semua hanyalah amal dengan niat yang ikhlas, bukan hasil yang gemilang yang ada dalam master plan yang sudah tertata rapih, Allah akan melihat dan menyaksikan proses amal yang kita lakukan, dan Allah akan membarikan rewardnya untuk apa yang kita usahakan. Fa hal jazaz'ul Ihsaan illah Ihsaan?
Written by : Syauqi_Beik
ANAK-ANAK KETEGARAN
ANAK-ANAK KETEGARAN*
Ku ingin bercerita tentang mereka
Anak-anak zaman yang lugu
Pada suatu masa, di sebuah desa
Nan jauh dari Jakarta
Amboi, riangnya mereka
Anak-anak masa yang penuh ceria
Berlarian, kesana-kemari gembira
Seperti kata lelah tak pernah ada
Dalam kamus bahagia mereka
Namun ku tak ingin mereka melupa
Sawah ladang dan tanah lapang di desa
Saksi riang dan ceria mereka
Kini sudah tegak berdiri Musholla
Sebagian di sulap jadi taman ‘wisata’
Ku ingin bercerita tentang mereka, Anak-anak itu
Kini telah tumbuh dewasa
Secercah semangat di garis wajahnya
Sudah pula tampak menyala
Menyirat asa nan sarat makna
Subhaanallah, tegarnya mereka
Mengais ilmu di ibu kota nan sarat nestapa
Namun dengan romantis mereka
Mengalun biola asa dan karya
Menyulam setiap sisinya dengan cita-cita
Tiada lelah engkau anak muda
Belum pula kau letakkan buku tebal itu
Berjalan hingga cakrawala senja
Menyambung karya di lapak sana
Untuk sekedar sampaikan pada mereka
Ini namanya Alif Ba dan Ta
Ku terpesona denganmu anak muda
Di atas mobil sound membara
Menyusur jalan menuju istana
Memekik takbir mengepal jemari
Hidup rakyat hidup mahasiswa
Aah …Nafasmu begitu panjang anak muda
Kasihmu begitu tulus
Dan tulusmu begitu mesra
Kepada anak-anak lugu di Musholla sana
Kau untai sebuah karya
Agar mereka kenal siapa Rabnya
Namun ku tak ingin
Duhai anak muda
Cahaya itu redup tertelan masa
Hingga mereka berkata
Dengan begitu polosnya
“kak, kakak sudah tidak sayang lagi sama kita”
Duhai anak muda, engkau anak-anak ketegaran.
Ahad, 01.43
Oleh : Sy_B
PENGEMBARAANKU
Written By Anonim on Minggu, 25 Mei 2008 | 02.41
Tenggelamnya jiwaku pada kelam yang silam ….
Akibat secuil keegoisan nafsu angkara.
Menyayat – nyayat jiwa yang zakiyyah.
Merampas hidupku yang hidup.
Merasakan kematian sebelum mati.
Aku ini jiwa pada masa teranyar…….
Mencicipi asam garam pengembaraan.
Menelan pil kesengsaraan.
Ingin bercerita padamu kawan….
Tentang jihad dan perjuangan.
Berpedoman pada kitab yang abadi sepanjang zaman.
Bilakah kita mengalaminya…?
Niscaya tak akan sangsi atas apa yang nyata.
Tinggalah usaha dan doa beban kita…
Ketetapannya, hanya Sang pemilik jiwa yang tau adanya.
Oleh : Fatal Kahfi
MENANTI KEBERANIAN UMAT
Written By Anonim on Sabtu, 24 Mei 2008 | 08.25
MENANTI KEBERANIAN UMAT
Oleh : Ifanudin
Dalam acara READER'S COMMUNITY yang diadakan oleh akhwat KAMMI komisariat LIPIA tanggal 22 Mei 2008 di aula masjid Al-Ikhlash Jati Padang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan mengingatkan kita pada sebuah kata yaitu keberanian. Acara tersebut membedah buku "Mengapa HAMAS dibenci Amerika ?" Acara tersebut langsung dihadiri oleh penulisnya yang membedah bukunya sampai tuntas. Ya, keberanian yang harus dimiliki oleh umat Islam jika ingin Berjaya kembali. Jika ingin masa keemasan itu kembali ke pangkuan Islam. Mengapa HAMAS dibenci Amerika ? tentunya hal ini sangat menarik. Organisasi Islam ini sangat dibenci oleh Amerika karena berani untuk mengatakan tidak kepada Amerika. HAMAS selama ini tidak pernah kompromi dengan Palestina, karenanya Amerika marah dan seperti kebakaran jenggot karena HAMAS mengancam Israel yang merupakan boneka Amerika di Timur Tengah untuk memecah belah para pemimpin Arab. Para pemimpin Arab kini sudah tidak lagi berani terang-terangan mengatakan "tidak" kepada Amerika, apalagi membantu Palestina dari aksi nyatanya. Wahai Ikhwah wa Akhwat fillah, sekiranya Para pemimpin Arab itu bersatu melawan Amerika dan begitu pula seluruh negara-negara muslim maka tidak ada apa-apanya Amerika itu. Namun rupanya keberanian itu kini telah sirna akibat penyakit Wahn (Cinta dunia dan takut mati) yang pernah disabdakan oleh Nabi Muhammmad Saw. Allah Swt berfirman :
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak[186] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). Katakanlah: "Inginkah Aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?". untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. dan Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya.
Ikhwah wa akhwat fillah, keberanian di atas adalah keberanian yang mencakup dunia global. Namun di sana ada satu keberanian yang semestinya kita miliki agar umat Islam bangkit dari krisis multi dimensi ini. Keberanian itu tidak mencakup dunia global akan tetapi keberanian itu sebatas pada diri kita sendiri. Ya kita harus berani untuk berubah jika ingin Islam ini berubah menjadi jaya. Karena tidak akan ada perubahan yang besar tanpa adanya perubahan dari yang kecil. Memang tidak semudah membalikan telapak tangan untuk merubah diri kta dari kebiasaan buruk menjadi baik. Namun yakinlah pada diri anda terlebih dahulu sebelum anda berubah dengan mengatakan " ya saya bisa untuk berubah, Insya Allah."
Ikhwah wa akhwat fillah, sampai kapan lagi umat ini akan terus menderita ? sampai kapan umat akan terus bertikai satu sama lain ? sampai kapan umat ini terus terbelenggu dan tergantung dengan Amerika ? umat ini belum bisa medeka penuh. Indonesia sebagai negara dengan kekayaan alam yang melimpah dan beratus-ratus juta penduduk muslimnya tentunya akan bias membawa cahaya perubahan bagi dunia Islam jika ingin berubah. Ingatkah kita dengan salah perkataan pahlawan muslim Indonesia Mohammad Natsir bahwasanya Islam akan terbit (bangkit) kembali dan membawa kejayaan umat ini dari Indonesia. Dan tentunya kita sebagai pemuda banyak kesempatan untuk merealisasikan kejayaan Islam yang akan terbit melalui Indonesia ini, insya Allah. Namun jangan lupa salah satu syarat untuk kebangkiatan itu adalah keberanian diri untuk berubah, keberanian umat ini untuk mengatakan "tidak" kepada Amerika dan musuh-musuh Islam lainnya, dan keberanian umat ini untuk bersatu melawan kaum kafir yang jelas-jelas memusuhi umat Islam.
Hari-hari pun berlalu namun keberanian itu belum jua muncul. Mari kita munculkan keberanian itu sebagai mana Ashabul Kahfi yang berani menyerukan kebenaran tauhid di hadapan kaisar yang durjana. Munculkan kberanian itu mulai saat ini, jangan ditunda lagi. Karena dunia Islam sekarang telah lama menanti keberanian umat ini untuk maju dan Berjaya kembali. Serukan kebenaran Islam tiada henti kecuali jika maut telah menghampiri. Allahu Akbar – الله أكبر .
Jakarta, 24 Mei 2008
FENOMENA AKTIVIS DAKWAH IKHWAN DAN AKHWAT SEKARANG YANG MEMPRIHATINKAN
Written By Anonim on Rabu, 21 Mei 2008 | 01.06
Sumber : www.anugerah.hendra.or.id
Beberapa waktu yang lalu saya sempat berdiskusi hangat dengan teman-teman yang menamakan dirinya sebagai aktivis dakwah. tapi saya salut luar biasa karena ini aktivis dakwah sangat kritis melihat beberapa fenomena dikalangan aktivis dakwah yang mulai meluntur nilai-nilai keislaman yang ada dalam dirinya. Atau mungkin juga jamaahnya. Mungkin nggak syakhsiyah daiyah lebih dulu terbentuk daripada syakhsiyyah islamiyyah? Lalu bagaimanakah dampaknya jika ini terjadi?
Adab-adab syuro…
Yang ini saya amati beberapa bulan yang lalu bersama seorang teman saya, yang juga mengaku aktivis dakwah. Fenomena unik di kalangan aktivis dakwah. Terjadi di seputar Masjid Kampus UGM. Kalau yang sudah pernah ke Masjid Kampus UGM, akan lebih mudah membayangkan narasi saya. Yang belum pernah, Insya Allah juga bisa membayangkan kira-kira kejadiannya bagaimana. Sore hari. Dua orang akhwat berjilbab gede, dan dua orang ikhwan duduk berhadapan, melingkar di bawah pohon palem yang ada di halaman sayap utara masjid kampus. Mungkin sedang syuro. Saya dengan teman saya ini, melihat fenomena ini cuma cengengesan.
Yang jelas kami yakin bahwa mereka belum menikah. Pasalnya, kalau sudah menikah, pasti posisinya gak berhadapan melingkar. boleh jadi duduk samping kiri-kanan, dan seterusnya. Ini pakai jarak lumayan jauh pada awalnya. Kira-kira 1-1,5 meter lah. Karena saya saya ada keperluan dengan Dimas, saya selesaikan dulu urusan saya. Setelah urusan selesai, entah kenapa, saya liat empat orang tadi. Masya Alloh…! Tambah parah! Posisi duduk ikhwan akhwat semakin kacau. Jaraknya semakin dekat. Lagian itu ikhwan, posisinya bikin kami semakin ngakak (kakakakakkk…). Duduk bersila, memandang si akhwat, dengan siku menempel di paha kaki dan ujung tangan menyangga dagu. Bisa bayangin ga? Basa jawanya songgo wang. Gile bener….
Melihat fenomena ini, dasar aktivis dakwah kurang aktif alias kurang gawean, kami mencoba keliling Masjid ini untuk mencari gejala-gejala aneh macam beginian. Baru sampai pintu utama di sisi timur, ada fenomena lagi. Satu ikhwan, satu akhwat, jadi cuma dua orang. Pas. Duduk menghadap ke timur, dengan jarak kira-kira 1-1,5 meter juga. Asumsi kami, ini sejoli juga belum nikah. Kalau sudah menikah, pasti duduknya lebih dekat, dan seterusnya. Entah yang disyurokan apa…. Kemudian ke selatan. Di sini agak lumayan. masih pakai tiang sebagai pembatasnya. Terus balik ke utara. Ealah, empat orang tadi belum selesai juga!
Lalu kami pulang. Ini baru fenomena yang saya lihat di suatu sore pada suatu hari di suatu tempat. Ketika saya ceritakan kepada beberapa senior saya, mereka membenarkan. Bahwa ada banyak kasus semacam cerita di atas, yang terjadi di kalangan aktivis dakwah. Di berbagai tempat.
Suaranya, bikin gemes…. (katanya)
Mengapa saya pakai katanya di dalam kurung? Karena ini ungkapan teman saya, sebut saja Budi (nama yang sudah disamarkan). Dia juga mengaku dan diakui sebagai aktivis dakwah. Begini cerita dari dia. Dalam beberapa syuro yang dia temui, dia mengaku sering menemui akhwat gaul. Heran dia. Gaulnya itu, terutama dia tangkap dari gaya bicaranya. Katanya sih, gaya bicaranya di akhwat-akhwatin. Nggak kalah juga, lawan bicaranya, si ikhwan. Si ikhwan ini, meskipun teman-teman di sekelilingnya melabeli dia sebagai ikhwan, tapi gaya ngomongnya.. . akhwat banget gitu loh! Payah deh…. Ini fenomena saya setujui keberadaannya. Saya juga sering melihat dan mendengar, dalam beberapa komunikasi ikhwan-akhwat, gaya ngomongnya sama. Yang akhwat di akhwat-akhwatin, yang ikhwan juga di akhwat-akhwatin. Setelah saya informasikan ke beberapa senior saya, mereka juga membenarkan.
Pada kasus-kasus di atas, si Budi memboleh jadikan, bahwa fenomena ini terjadi karena faktor lingkungan yang lebih mendominasi. Boleh jadi, lingkungan sekitar akhwat memang orangnya gaul-gaul. Demikian juga lingkungan si ikhwan. Dan mereka ini tak pernah kembali atau berada pada lingkungan yang sesuai. Namun ini masih boleh jadi. Boleh jadi juga, ini ikhwan akhwat terlalu sering bertemu, atas nama syuro, kemudian bahasannya ngelantur. Nggak ada tilawah AlQuran plus tadabburnya, nggak ada taushiyah juga. Banyak guyon, nggarapi lawan jenis, dan seterusnya. Dan dua kalimat terakhir ini memang sering terjadi. Saya sepakat! Kurang ada mekanisme kontrol dari masing-masing individu. Juga dari atasan-atasan para aktivis itu. Kerja dan adab dalam dakwah semakin permisif, dan frekuensinya semakin sering.
Payahnya, tidak diimbangi dengan frekunsi pelaksanaan amal-amal ruhiyah yang tinggi pula. Dalihnya selalu saja ada. "Ini kan cuma koordinasi ikhwan-akhwat, bukankah koordinasi harus ada?" Begitu katanya. "Ini kan cuma guyonan biasa, kita masih tahu batasan kok." Apa iya?
Bagaimanapun juga penyakit-penyakit hati muncul dari hal-hal kecil kayak beginian. Ada lagi yang lebih ngaco, "Sekarang kan mihwarnya sudah lain, Ustadz! Jadi boleh dong!" Masya Allah. Ngomong begitu kepada ustadznya. Gimana, coba? Sepertinya tidak hanya terjadi di Jogja. Pasalnya, beberapa bulan yang lalu, majalah Tatsqif dari Jakarta juga mengangkat tema ini. Judulnya ATM. Aktivis Tapi Mesra. Yang dibahas lebih dalam. Sampai pada fenomena SMS yang serem-serem itu. Itu baru SMS, belum perkara telepon langsung.
Sempat juga saya diskusi dengan beberapa aktivis yang lain, dan ustadz, berkaitan melunturnya nilai-nilai keislaman dalam diri aktivis dengan adanya fenomena aneh ini. Jumlah aktivis semakin banyak, namun kualitasnya dipertanyakan. Ustadz-ustadzpun turut prihatin atas fenomena ini. Sudah berkali-kali diberi taujih dan taushiyah, e… malah njawabnya "Sekarang kan mihwarnya sudah lain, Ustadz! Jadi boleh dong!" Bukankah yang haram itu telah jelas, dan yang halal juga telah jelas? Dan diataranya ada syubhat, yang siapa menjauhkan diri dari syubhat, dia telah menjaga agama dan harga dirinya?
Pak Ustadz memberikan titik tolak permasalahannya. Tidak ada semangat untuk kembali ke tarbiyyah. Kalau diminta datang syuro, rajin betul. Apalagi Aksi. Giliran diminta datang kajian, dalihnya Afwan, ada syuro penting. Terlalu lelah. Ada agenda penting. Giliran ada mabit, sama juga alasannya. Giliran ada rihlah, apalagi pakai ikhwan-akhwat, semangat lagi. Kan bisa curi-curi pandang. Kalau masih nggak cukup, bisa langsung ketemu ikhwan akhwat, di alam bebas, pake materi koordinasi, nge-fix-kan acara, dan seterusnya. Sekali lagi, penyakit-penyakit hati muncul dari hal-hal kecil kayak beginian.
Pak Ustadz kemudian memberikan solusi sederhana. Kembali ke Tarbiyyah. Sederhana, bukan?
http://www.ksai-aluswah.org/news.php?extend.64
-Ifanudin-
MAKNA 100 TAHUN KEBANGKITAN NASIONAL
Written By Anonim on Selasa, 20 Mei 2008 | 23.49
MAKNA 100 TAHUN KEBANGKITAN NASIONAL
Oleh : Ifanudin
Seratus tahun yang silam bangsa ini mencoba bangkit dari penjajahan bangsa Belanda yang telah menjajah bumi pertiwi ini selama beberapa abad. Berbagai organisasi ketika itu pun bermunculan sebagai bentuk kebangkitan yang nyata. Organisasi-organisasi itu mempunyai satu tujuan yakni kemerdekaan Indonesia. Tak sampai 40 tahun dari kebangkitan itu, banga ini berhasil memproklamasikan dirinya sebagai Negara yang berdaulat dan merdeka penuh. Dan itu merupakan nikmat dari Allah Swt kepada bangsa ini. Bangsa yang sebagian besarnya adalah muslim.
Namun benarkah kita sudah merdeka, kawan? Sudahkah anda merasakan kemerdekaan itu? Mungkin bagi sebagian orang akan menjawab "ya, kita sudah merdeka." Saya tegaskan kita belum merdeka, kawan. Karena makna kemerdekaan itu belum nyata dalam kehidupan bangsa ini. Ya, bangsa ini hanya terbebas dari penjajah Belanda dan Jepang serta Negara-negara yang pernah menjajah banga ini. Namun coba kita lihat, pengaruh dari penjajahan itu masih melekat pada generasi-generasi bangsa ini. Bangsa ini belum merdeka dalam mengambil kebijaksanaan-kebijaksanaan yang akhirnya berujung pada kesengsaraan rakyat. Bangsa ini masih belum juga berani memanfaatkan sumber daya alamnya sendiri karena terlilit hutang yang begitu besar warisan dari para negarawan sekuler yang mementingkan kepentingan perut mereka masing-masing. Bagi mereka masa menjadi pejabat adalah kesempatan emas untuk memperkaya diri. Wahai para pejabat negeri ini, jabatan yang engkau emban adalah amanah yang akan dimintai pertanggung jawaban di hadapan Sang Pencipta sekalian alam, Allah Swt. Tidakkah kalian pernah mendengar jeritan rakyat yang kelaparan sedangkan kau makan daging di meja makan?. pernahkah kau mengalami kedinginan sebagai mana orang yang tak punya rumah yang tidur di kolong jembatan dan di depan toko-toko? Tidakkah kau mendengar nyanyian merdu seorang bocah cilik di angkutan umum demi sesuap nasi? Apa yang kau lakukan selama ini? Mungkin kalian bisu, buta , dan tuli sehingga tidak pernah tahu-menahu urusan wong cilik. Saya jadi teringat dan merasa geli ketika mendengar salah satu mantan presiden kita yang mengklaim bahwa partainya adalah partainya wong cilik namun dalam pemerintahannya ia menjual aset Negara yang termasuk aset strategis. Sungguh ironis. Yang dikejar para pejabat sekuler adalah mengeksploitasi bangsa ini demi kepentingan pribadi.
Hari ini banyak kalangan yang menggembar-gemborkan isu 100 tahun kebangkitan nasional. Apa yang telah di dapat bangsa ini dari kebangkitan itu. Kemerdekaan? Kesejahteraan? Keadilan? Kemakmuran? Belum dan sekali lagi belum kawan. Kesejahteraan di negeri ini tidak merata. Masih banyak anak-anak dan orang papa yang terlantar yang seharusnya merupakan kewajiban Negara untuk memelihara mereka dan memberi pendidikan yang layak. Memang tidak bisa dinafikan bahwa bangsa ini pernah bangkit 100 tahun yang lalu. Namun sekarang bangsa ini tertidur kembali. Yang harus kita lakukan adalah membangunkan dan membangkitkan umat Islam yang menguasai mayoritas penduduk bangsa ini. Karena sudah seharusnya sistem Islam diterapkan di Indonesia untuk bangkit dari segala keterpurukan ini. Bagaimana wahai para pejabat dan tokoh sekuler? Kalian tidak bisa membawa bangsa ini maju kecuali jika Islam menjadi landasan bangsa ini dalam hal ketata negaraan dan kebijakan-kebijakan pemerintahnya, bukan yang lainnya.
Kawan, jika 100 tahun yang lalu para tokoh muslim itu bangkit penuh semangat dan teguh untuk memperjuangkan bangsa ini lepas dari penjajahan, maka sudah selayaknya kita pun bangkit dari keterpurukan ini. Mari kita tingkatkan kepekaan sosial kita. Kita adalah generasi muda muslim yang diharapkan akan bisa menghiasi sejarah bangsa ini dengan mutiara-mutiara karya kita. Hidup ini adalah masa untuk selalu berkarya. Mari bangkit dengan memperbanyak karya kita, mari aktif dan jangan pasif. Mari selalu peduli sesama jangan memelihara sikap egois. Kitalah para pahlawan baru yang kelak akan menjadi bagian dari sejarah bangsa ini. Saya mengingatkan diri saya dan seluruh umat Islam bangsa ini agar jangan menjadikan momentum 100 tahun kebangkitan nasional ini hanya sebatas gembar-gembor tanpa arti, hanya sebatas mengenang lalu berlalu tanpa bekas, atau hanya basa-basi politik bagi para politikus sekuler, namun momentum 100 tahun kebangkitan nasional ini kita jadikan sebagai awal dari kebangkitan Indonesia jilid kedua. Kebangkitan Indonesia menjadi bangsa yang disegani, bangsa yang mandiri, bangsa yang cerdas dan tidak ada yang berani mendikte lagi, bangsa yang benar-benar merdeka dalam maknanya yang hakiki. Dan sekali lagi, kitalah sebagai pemuda yang berpeluang besar untuk berperan dalam mencapai tujuan-tujuan yang mulia tadi. mari kita maju dengan semangat Iman dan jihad yang menggelora di dada kita, serukan kebenaran Islam tiada henti. Allahu Akbar !!!
MENCARI KADER MILITAN
Written By Anonim on Senin, 19 Mei 2008 | 15.23
MENCARI KADER MILITAN
Oleh : Ifanudin
Apa yang terjadi sekarang adalah salah satu fase dari fase-fase dakwah islamiyyah. Dakwah yang mulia ini berhak diemban oleh setiap muslim dalam kapasitasnya masing-masing. Karena kita adalah da'I sebelum menjadi yang lain. Berarti kita harus mengenakan pakaian dakwah itu di mana pun dan kapan pun. Karena dakwah pada hakikatnya tidak mengenal batas ruang dan waktu. Di sekolah, di kampus, di masjid, di parlemen, dan banyak lagi tempat yang bias kita memakai pakaian dakwah di sana.
Alangkah indahnya ketika dakwah ini diemban oleh seorang pemuda. Yang saya maksud pemuda adalah mereka yang mempunyai semangat muda walaupun sudah tua renta. Karena pergerakan dakwah kita sekarang mengalami degradasi militansi yang sangat mengkhawatirkan. Banyak generasi muda sekarang yang lebih cepat pudar semangatnya. Kader dakwah sekarang banyak yang tidak lagi peduli dengan dakwah. Ambil saja contoh kasus nyata, suatu saat saya menghadiri sebuah kajian yang diadakan oleh salah satu organisasi mahasiswa muslim yang notabene sudah ngetren dan besar. Namun apa boleh dikata, yang hadir hanya segelintir kader. Ke mana kader yang katanya banyak itu ? jangan-jangan kader yang banyak itu hanya sebuah data dalam bentuk tulisan yang hanya tersimpan dalam lembaran arsip-arsip organisasi dan file-file computer. Kita butuh data para kader tetapi yang lebih penting dari itu adalah militansi dan sikap aktif para kader tersebut. Karena bukan kuantitas yang kita targetkan, tetapi kualitas dan militansi kader yang diharapkan oleh umat ini.
Wahai ikhwah dan akhwat fillah, ke mana semangatmu dalam dakwah? Apa kabar dengan tekadmu untuk selalu memperjuangkan Islam? mana kontribusimu untuk dakwah? Mari kita jawab pertanyaan-pertanyaan itu. Ingat, musuh Islam tidak akan berdiam diri. Mereka akan selalu menyusupkan pemikiran-pemikiran yang merusak generasi muda Islam. dan terkadang tanpa disadari kita pun bisa terserang dan mengadopsi pemikiran mereka yang sesat.
Degradasi militansi ini banyak disebabkan oleh sikap para kader itu sendiri. Kita tanpa sadar telah terseret ke jurang kehancuran. Oleh karena itu saya akan mencoba mendiagnosa faktor-faktor penyebab degradasi tersebut. Di antara faktor-faktor tersebut adalah :
Ø Salah niat kita ketika pertama kali terjun ke dunia dakwah. Keikhlasan kita telah tercemari oleh kepentingan-kepentingan pribadi dalam hal keduniaan.
Ø Kita sering menyepelekan dosa-dosa kecil sehingga dosa tersebut membesar tanpa kita sadari dan menutup kejernihan hati kita.
Ø Para kader yang senior kurang memperhatikan bakal generasi penerusnya dalam segi kualitas dan militansi. Yang sering ditargetkan adalah kuantitas.
Ø Para kader senior terkadang bertindak tidak sesuai dengan visi dan misi gerakan. Dan hal ini akan menjadi contoh yang tidak baik dan tidak menutup kemungkinan akan menjadi budaya. Sebagai contoh, visinya tercipta masyarakat yang islami,. Namun para kader senior malah menyepelekan hijab dalam syuro atau rapat bersama akhwat, dan kegiatan-kegiatan lainnya. Hal ini akan menurunkan kepercayaan kader yang baru akan gerakan dakwah tersebut yang bisa mengendurkan semangat dan militansi kader baru.
Ø Kurangnya pemahaman kader baru tentang etika berdakwah dan pentingnya dakwah ini.
Ø Saling mengandalkan satu sama lain dalam hal tugas,.
Ø Kurangnya tanashuh (saling memberi nasehat) dan saling mengingatkan antar kader ketika ada kader yang menyimpang.
Ø Para kader terkadang meras kurang diperhatikan oleh seniornya dalam hal pembagian tugas. Sehingga hal ini menyebabkan kemacetan keaktifan kader.
Ø Kurangnya pemahaman kader akan visi dan misi gerakan dakwah yang mereka ikuti.
Di atas hanyalah beberapa faktor yang saya amati dalam perkembangan dakwah selama ini. Tidak menutup kemungkinanan ada lagi faktor-faktor yang lain. Dan yang lebih penting adalah kita harus segera menyelasaikan masalah degradasi militansi ini dengan segera atau kita akan kehilangan banyak kesempatan dan merugi karena dakwah ini tidak bias berjalan dengan normal akibat krisis militansi kader.
MASJID RAYA BAITURRAHMAN
Written By Anonim on Rabu, 14 Mei 2008 | 20.53
MASJID RAYA BAITURRAHMAN
Siapa Yang Membangun?
Mesjid Raya Baiturrahman terletak di tengah kota Banda Aceh. Menurut beberapa literatur, masjid ini pertama kali dibangun oleh Sultan Alaidin Mahmud Syah I yang berkuasa tahun 1267-1309 M. Namun ada sumber yang menyebut bahwa Masjid Baiturrahman dibangun pada zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Menurut catatan Nuruddin Ar-Raniri dalam kitab Bustanus Salatin, Sultan Iskandar Muda sangat giat mengembangkan ajaran agama Islam dalam wilayah kerajaan Aceh. Beliau banyak membangun masjid-masjid besar, salah satunya adalah Mesjid Baiturrahman atau sekarang lebih dikenal dengan nama Mesjid Raya Baiturrahman. Tetapi, pendapat bahwa Masjid Baiturrahman dibangun pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda masih agak diragukan karena ada pendapat lain yang menyebut bahwa Sultan Iskandar Muda hanya melakukan perbaikan-perbaikan.
Tempat Pertahanan Perang Aceh
Seiring dengan perkembangan zaman, masjid ini masih tetap terpelihara dengan baik dan merupakan tempat pertahanan bagi pasukan perang Aceh dalam melawan pasukan Belanda pada tahun 1873 sehingga menewaskan seorang Jenderal Belanda bernama J.H Kohler tepatnya pada tanggal 14 April 1873. Kejadian ini juga menyebabkan serdadu Belanda ditarik kembali ke Batavia yang sekarang ini disebut Jakarta.
Sebelumnya, pada tanggal 22 Maret 1873, Masjid Baiturrahman juga menjadi tempat musyawarah bersejarah yang diprakarsai Sultan Alaidin Mahmud, dimana Aceh menolak kehadiran Belanda. Seminggu kemudian Belanda memaklumkan perang untuk Aceh.
Dibakar Belanda
Belanda membakar masjid ini pertama kali pada tanggal 10 April 1873 ketika serangan cepat dan besar-besaran mereka lancarkan terhadap pejuang Aceh. Karena tak bisa merebut, Belanda pun membakarnya. Pejuang-pejuang Aceh berusaha memadamkan api yang berkobar da merebut kembali masjid yang menjadi simbol Islam di negeri tersebut. Masjid kembali dibakar pada 6 Januari 1874. Saat itu Belanda membakar ibukota, yang menyebabkan masjid ini ikut terbakar habis.
Perluasan Masjid
Rakyat Aceh benar-benar terluka karena pembakaran masjid oleh Belanda. Menghindari hal-hal yang tak diinginkan, pada 9 Oktober 1879, masjid ini direhabilitasi kembali oleh Gubernur Militer Aceh Jenderal K. Van Der Heijden. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Teungku Kadhi Malikul Adil. Tahun 1881, masjid selesai dikerjakan dengan satu kubah. Pada tahun 1935, masjid ini diperluas dengan tambahan dua kubah pada kedua sisinya. Tahun 1957 dibangun lagi dua kubah di belakang, dan selesai tahun 1967. Dari tahun 1992-1995, masjid ini kembali mengalami pemugaran dan perluasan bangunan menjadi 7 buah kubah dan 5 buah menara yang mampu menampung ± 10.000-13.000 jamaah. [Dee/berbagai sumber]
NGGAK SHALAT? KELUAR DARI AREA MASJID!
Banyak yang bilang, belum ke Aceh kalau belum ke Masjid Baiturrahman. Ada benarnya tuh. Bangunan ini memang kebanggaan rakyat Nanggroe Aceh Darussalam. Tak lengkap rasanya ke Aceh kalau belum menapaki masjid ini. Masjid Baiturrahman juga terkenal ke seluruh mancanegara, dan termasuk masjid termegah di Asia Tenggara. Kalau kamu datang ke Masjid Raya Baiturrahman, kemudian tiba waktu shalat dan masih berseliweran di sekitar masjid, nggak segera mengerjakan shalat, pasti petugas masjid akan segera meminta kamu keluar dari areal masjid.
Potensi Generasi Muda Dalam Kepemimpinan
Written By Anonim on Rabu, 07 Mei 2008 | 23.42
Potensi Generasi Muda Dalam Kepemimpinan
ألا ليت الشباب يعود يوما # فأخبره بما فعل المشيب
Usia muda adalah usia yang didambakan semua orang, mereka yang sudah tua terkadang sering menyesal ketika teringat masa-masa muda mereka dan tidak memenfaatkan karunia Allah tersebut, sebagaimana penyair di atas yang mengungkapkan penyesalanya. Begitu juga adik-adik kita yang masih kecil ingin segera dewasa agar bisa menikmati usia muda yang menurut persepsi mereka adalah usia paling bebas. Memang usia muda mempunyai daya tarik tersendiri antara lain usia pertengahan antara balita dan tua, puncak semangat, puncak kekuatan dan lain-lain.
Pemuda adalah tolak pergerakan dan perubahan bangsa. Usia muda mempunyai keistimewaan tersendiri dari pada usia yang lain yaitu puncak kreatif dan inovatif yang selalu ingin merealisasikan pikiran-pikiran kreatifnya. Dengan berbekal kekuatan, semangat, kreatif, dan keluangan waktunya bisa merubah peradaban bangsa dan menjadi investasi masa depan yang selalu dinantikan perananya dalam mengevaluasi dan membangun perjuangan islam.
Di samping keistimewaaan di atas, usia muda juga merupakan usia paling rawan, masa transisi yang menentukan masa depanya, masa mancari jati diri. Apakah masa depanya cerah atau buram ?. Dalam sebuah hadist Rosulullah bersabda yang artinya tujuh golongan yang dinaungi Allah SWT. Dimana pada saat itu tidak ada naungan selain naunganya, salah satunya adalah pemuda yang selalu ta’at kepada Allah dalam seluruh aktifitasnya.
Fase inilah yang menentukan keberhasilan sesorang , sehingga banyak kelompok-kelompok yang tidak bertanggung jawab yang ingin menghancurkan peradaban manusia dengan mengincar pemuda-pemudanya dengan perangkap-perangkap yang bernuansa hawa nafsu, seperti fun, fashion, dan food. Potret kerusakan pemuda sudah tidak sulit bagi kita menemukanya. Di tepi jalan banyak kita jumpai pemuda-pemuda kita yang menghabiskan waktu tanpa ada manfa’atnya bahkan malah merugikan orang lain.
Ironisnya, kita termasuk orang-orang yang telah mengabaikan dan kurang peduli dengan nasib mereka. Kadang kita hanya berharap tanpa disertai dengan usaha untuk memperbaiki diri kita, keluarga dan masyarakat kita. Bahkan banyak kita temukan ikhwah yang menutup kehidupanya dari pergaulan mereka. Sehingga mereka tidak mendapat perhatian, nasehat, dan siraman rohani.
Apabila generasi harapan kita ini terus menerus dalam keadaan seperti ini, dipastikan akan menjadi ancaman dan bahaya terhadap kehidupan masyarakat dan umat islam. Pasalnya mereka semua akan menggantikan kedudukan pemimpin umat di masa datang. Tanpa disadari apabila sekarang kita ikut aktif memperbaiki generasi muda, berarti kita telah mencetak pemimpin-pemimpin bangsa akan datang.
Writed by : Khoir
DIALOG DIRI
Laksana jiwa ini pelita.
Namun ia tenggelam.
Dalam, sedalam lautan Pasifik.
Dalam tiap – tiap hawa.
O…aku hilang kendali hati.
Hatiku tertawan seribu satu hawa.
Kanan kiri aku dikekangnya.
Cukup !!!
Cukuplah aku tersiksa.
Cukuplah jiwaku terluka.
Karena segumpal dosa.
Allahu Akbar…! Allahu Akbar… !
Kuserahkan jiwaku pada-MU
Untuk engkau obati luka hati.
Luka yang tak kunjung henti.
Di mana aku ?
Kurasa diriku ini tiada.
Diriku hanyalah bayangmu.
Diriku hanyalah pikiranmu.
Diriku tiada berwujud.
Wujudku dalam dirimu.
Wujudku bayang semu.
Katakan di mana aku ?!
Bisikanlah nama tempat itu !
Tempat hakikatku yang lalu.
Lalu kembalikan aku !
Karena jiwa ini selalu merindu.
Merindu satu kata…
Kata yang meneguhkan hati,
Yang menjernihkan kemelut jiwa,
Yang membuat hidup lebih hidup,
Yang memberi harapan baru,
Yang menjaga hati,
Yang mensucikan pribadi ini,
Yang menjadi puncak surga dunia ini,
Yang bisa mengguncang dunia ini,
Yang penuh arti dan makna hakiki.
Bilakah aku mengalaminnya….
By: Fatal kahfi
GETTING TO KNOW OUR BELOVED PROPHET
GETTING TO KNOW OUR BELOVED PROPHET
By: Ega
As we have known, our beloved prophet is Muhammad, he was born in Mecca on Monday, 12th Rabi'ul Awwal in The Elephant Year, but his father, Abdullah, had died before he was born to the world. His lineage was Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushai bin Kilab. Then his mother, Aminah, sent him to his grandfather, Abdul Muthalib, so that he took and brought him to do thawaf around the Ka'bah, and called him Muhammad. Muhammad means the glorified one. Muhammad was offered to women from Bani Sa'ad who wanted to suckle him, but they refused, it was just because he was an orphan child. Yet Halimah Sa'diyah (one of them) had no child to suckle. They agreed to come back to their village, so Halimah had to take the orphan child. The child made Halimah's family blessed and even all inhabitants of Bani Sa'ad. Muhammad lived with his mother after he came back from Bani Sa'ad. When he was 6 years old, he went with his mother to visit his uncles from Bani 'Adi Bin Najjar at Yatsrib (Madinah), then his mother died in Abwa and was buried there.
Afterward he was brought up by his grandfather till his grandfather died. After his grandfather died, his uncle, Abu Thalib, toke over his bringing up. When Muhammad was 12 years old his uncle invited him to go to Syam for business case. When the group of business reached Busra village, they met a Protestant Clergyman called Bahira.
When Muhammad was 25 years old, he went to Syam bringing merchandises of Khadijah. He was accompanied with the servant of Khadijah named Maisarah. When they came back to Mecca, Maisarah told Khadijah about attributes of Muhammad. Afterward she was attracted in Muhammad, and not long after that Muhammad married her.
When he was 35 years old, the Ka'bah was damaged caused by a great flood. Therefore the tribe of Quraisy wanted to rebuild it. But they differed in deciding the proper man who should put the Black Stone. And then Muhammad could solve the problem successfully, therefore he was surnamed with Al Amin (the Trusted One). Muhammad was raised to be prophet and messenger of Allah when he was 40 years old. He received the first revelation from Allah through archangel Gabriel when he was doing tahannuts, in other words, when he was meditating in a cave called al Hira' in the Mountain of Light (Jabal al-Nur) near Mecca, that Muhammad experienced the presence of the archangel Gabriel and the process of the Qur'anic revelation began and continued approximately for 22 years, 2 months and 22 days. Prophet Muhammad (peace and blessing of Allah be upon him) stayed in Mecca for 23 years and then migrated to Yatsrib and stayed there for 10 years.
Since attendance of Propphet Muhammad, Yatsrib was called Madinatun Nabi which later should be more famous with Madinah only.
Our beloved prophet (pbuh) passed away in the beginning of Rabi'ul Awwal, 11 Hijriah, when he was 63 years old. May Allah gather us with him in His heaven. Amin.
AKSI SUNYI
AKSI SUNYI
Oleh : Feri Mahdi Selian
Dalam sunyi, seruan berarak merasuki benak seluruh aktivis diruangan itu. Dalam sunyi, mereka semua gelisah dan geram. Dalam sunyi, semua mengepal tangan. Tapi bel tak kunjung berdering. Konsentrasi hamper buyar. Seperti ombak menerpa karang. Pecah. Kocar-kacir. Tapi belumlah seperti pecahnya kaca. Yang tak mungkin diatur kembali.
Setiap kali pikiran terbentur. Tentang saudara mereka yang tertindas, terusir, kelaparan, atau terpenjara. Jiwa-jiwa mereka terbakar.berteriak dalam sunyi walau tak berdaya.
"Hidup bukan sendiri, kawan!" coretan disudut tembok menuju kampus.
Mata-mata mereka awas, walau itu terlarang. Walau itu tak mungkin mereka rongrong. Karena terikat pada tali-tali yang mereka ikatkan sendiri. Mereka akan hilang bila teriak. Mereka akan tamat prematur bila turut membela. Atau turut serta dalam upaya mengusung seorang pemimpin diatas usungan keadilan dan asas pembelaan. Pembelaan terhadap orang-orang yang patut dikasihani.
"Saatnya yang muda memimpin!" teriak poster yang tertempel dideretan tiang-tiang listrik hitam terkena polusi kota.
Tapi masa ini yang muda terkekang. Yang terhasut pecah karena perbedaan alur pikiran.yang muda terancam perang; karena genderang kelompok yang dibesar-besarkan.
Edisi 3 Mei Tahun 2008 |
|
"Dimana kau wahai pemuda!" pekik aktivis didinding rumahnya yang penuh poster perjuangan dalam coretan berwarna merah. Menggambarkan keberanian. Walau masih bersembunyi dalam sunyinya ruangan
Aktivis terbelalak matanya mendengar suara lantang nan berwibawa. Menyeru agar menjauhi pembelaan terhadap bangsa dan anak bangsa. Menyeru agar lari dari kenyataan bahwa kita perlu melawan, bahwa kita harus berbaur dan berteriak menyampaikan keberatan atas harga sembako. Dan dikekang turut serta dalam pembuatan kebijakan mengarahkan negeri.
"Kita punya tangan, tapi kemana tangan kita?" bisik-bisik aktivis diruangan itu.
"Kita punya mulut, tapi kita bisu. Kita punya otak tapi terendam dipalung laut antartika agar beku tak bergerak"
Dada aktivis terasa sesak. Ingin berteriak tapi tak berani. Ingin memberontak tapi terlarang. Ingin…ingin…ingin… tapi…tapi…dan tapi. Kapankah ada keberanian.
"Oh! Saat bel berdering, anakku!" jawab seorang tua berjenggot putih. Bersongkok melayu.
"Setelah bel bedering, jadilah dirimu yang sesungguhnya. Kami menunggu teriakanmu didepan gedung wakil rakyat atau dari dalam gedung rakyat"
Bel pun berdering. Orang-orang berebut keluar dengan wajah berseri, tersenyum, tertawa, cemberut, merengut, beku dingin atau pucat seperti mayat. Orang-orang punya kesibukan sendiri setelah ini. Tentang diri mereka, tentang istri mereka, tentang anak-anak mereka. Tapi sang aktivis berjalan lunglai. Berdiri sejenak didepan pintu. Mendengar azan yang dayu mendayu. Dia berpikir: "setiap saat suara ini menggema dilangit. Tapi apakah setiap saat juga yang dipuji disana mendapatkan haknya? Tentang perintah dan larangan, tentang kerajaan yang dikuasainya. Dia selalu memberi waktu untuk berkata "padamu berserah" tapi belum juga terkata" aktivis menggeleng dan pergi.
Pepatah "hidup hanya sekali" adalah benar. Tapi "hidup berguna" bagi siapa? Bagimu? Ataukah nyawa-nyawa disekitarmu? Aktivis mewanti diri, bahwa dia harus berguna. Dan tetap berteriak. Seperti kata seorang tua berjenggot putih, bersongkok melayu.
Aktivis tersadar, kalau bel sudah lama berakhir. Berjam-jam yang lalu. Dia ingin membuktikan, apakah masih ada keberanian. Atau sudah hilang karena pudar.
Edisi 3 Mei Tahun 2008 |
Tapi, ternyata dia memang tak berani. Karena seluruh bel berdering masih berdering. Karena seluruh ikatan tali masih menali, dan para penjarah keberanian menari-nari diujung kelopak matanya.
"Oh ia aku terlupa" ucapnya suatu petang setelah bangun tidur. Sambil mengusap wajah dan membersihkan mata dia segera membersihkan diri dan pakaian. Meraih tas dan segera meluncur. Menuju perkampungan kumuh. Dimana dia dinanti oleh banyak orang yang membutuhkannya. Tapi dia terlambat beberapa menit saja.
"Maafkan kakak karena terlambat!" pintanya pada orang-orang. Tapi tak ada tanggapan. Mereka asik saja berbincang, bercerita dan bergurau. Ada yang berkelakar tentang botol air mineral yang berubah menjadi emas, lalu tertawa. Ada yang menangis karena berantam. Dasar anak kecil, memang seperti ini.
Aktivis pulang dengan perut lapar dan kini dia puas karena bisa berteriak dalam sunyi. Dia bisa menghalau dalam sepi menjadi berguna bagi yang lain. Disamping berguna bagi diri sendiri. Dia terus berjalan dan terus berjalan dalam senyum. Dalam kelapangan dada. Dalam suasana suka.
Tapi itu tak lama. Saat sang aktivis harus berpapasan, dengan seorang anak yang berwajah hitam. Berpakain, tapi bukan pakain. Badan kurusnya serupa anak-anak Ethiopia yang kelaparan. Dia kembali terpaku dan berdiri beku. Untuk apa dia ada tapi tak berguna, vonis dalam hati.
Ah, terlalu banyak orang susah dinegeri ini. Tanaman-tanaman mati kering dipinggir irigasi. Hatinya menjadi sedikit tenang saat itu. Diapun terus berjalan. Tapi setiap langkah membuat jarak. Selalu didapati orang yang sama. Orang-orang dengan wajah gelap. Hatinya menjadi tak tenang. Ternyata dia sangat tak berguna.
Belpun berbunyi lagi.
"Hidup tak sendiri kawan!"
"Kita butuh kepala-kepala cair."
"Kita harus bisa berguna" tekad aktivis. dan menyusuri lorong tembok yang penuh coretan dengan tenang. Menuju kampus.












